lognews.co.id, Indramayu — Cimplo menjadi salah satu kuliner tradisional khas Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang memiliki nilai budaya dan dipercaya masyarakat setempat sebagai bagian dari tradisi tolak bala, khususnya pada bulan Safar dalam kalender Hijriah
Informasi ini dihimpun dari publikasi media daerah, literatur budaya pesisir Indramayu, serta penuturan masyarakat lokal mengenai tradisi kuliner tahunan tersebut.
Tradisi Safar dan Nilai Simbolik
Dalam praktik budaya masyarakat Indramayu, pembuatan cimplo dilakukan secara bersama-sama (ngariung) oleh warga, terutama ibu-ibu rumah tangga, pada bulan Safar.
Bulan tersebut dalam tradisi lokal diyakini sebagai periode yang perlu diisi dengan doa dan kebersamaan sebagai bentuk permohonan perlindungan dari marabahaya atau penyakit.
Cimplo kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan kerabat sebagai simbol solidaritas dan harapan keselamatan.
Meski tidak terdapat catatan sejarah tertulis yang pasti mengenai awal kemunculannya, tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya pesisir Indramayu.
Bahan dan Cita Rasa
Cimplo terbuat dari:
- Tape beras
- Tape singkong
- Tepung
- Gula merah cair
- Parutan kelapa
Secara tekstur, cimplo memiliki kemiripan dengan kue apem, namun perbedaannya terletak pada kombinasi bahan fermentasi dan penyajian topping gula merah cair serta kelapa parut.
Rasa yang dihasilkan cenderung manis dengan sentuhan gurih, serta tekstur lembut saat disajikan hangat.
Konteks Budaya Kuliner Indramayu
Indramayu dikenal sebagai wilayah pesisir dengan kekayaan kuliner berbasis hasil laut dan produk kelapa. Selain cimplo, sejumlah makanan khas daerah ini antara lain:
- Pindang Gombyang Manyung
- Pedesan Entog
- Mie Ragit
Tradisi kuliner lokal sering kali berkaitan erat dengan momentum adat maupun keagamaan.
Pelestarian Kuliner Tradisional
Di tengah maraknya jajanan modern, cimplo tetap dipertahankan sebagai warisan kuliner tradisional. Praktik pembuatan kolektif setiap tahun menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya yang masih bertahan di masyarakat.
Belum terdapat data resmi mengenai jumlah produksi tahunan, namun berdasarkan pengamatan lapangan media daerah, tradisi ini masih rutin dilakukan di sejumlah desa di Indramayu.
Artikel ini disusun berdasarkan kompilasi publikasi media daerah, referensi budaya lokal, serta dokumentasi tradisi masyarakat Indramayu.
(Amri-untuk Indonesia)


