Oleh : Adlan Daie (Anakisis Politik, Sekretaris umum MUI Kab. indramayu)
lognews.co.id - Analis politik sekaligus Sekretaris Umum MUI Kabupaten Indramayu, Adlan Daie, menilai kontestasi menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026 berpotensi menghadirkan persaingan ketat antara Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Menteri Agama RI, Prof. Nazaruddin Umar.
Menurut Adlan, hingga saat ini belum ada satu pun kandidat yang menguasai dukungan mayoritas sederhana atau "50 persen plus" dari total 586 suara yang akan diperebutkan dalam Muktamar NU ke-35.
Mengacu pada peta klaster dukungan yang dirilis Sindikat Intelegen Nahdiyin (SIN), proyeksi dukungan terhadap Gus Yahya diperkirakan mencapai sekitar 125 suara atau 21,3 persen. Sementara itu, Prof. Nazaruddin Umar diproyeksikan memperoleh sekitar 200 suara atau 34,7 persen. Keduanya masih berada di bawah ambang kemenangan 294 suara.
"Artinya masih terdapat sekitar 271 suara atau 46 persen yang bersifat cair (floating vote), yang tersebar pada sejumlah kandidat lain seperti Gus Salam, Gus Yusuf, Gus Kikin, Gus Rozin, KH Zulfa, dan KH Imam Jazuli," tulis Adlan.
Ia menjelaskan, Gus Yahya masih membutuhkan tambahan sekitar 170 suara untuk mencapai mayoritas, sedangkan Prof. Nazaruddin Umar membutuhkan sekitar 95 suara tambahan.
Menurutnya, memperoleh tambahan dukungan tersebut bukan perkara mudah karena para pemegang hak suara, yakni para Ketua PWNU dan PCNU, dinilai memiliki pengalaman dan kemampuan membaca dinamika politik internal organisasi.
Adlan juga menilai Gus Yahya menghadapi tantangan karena sebagian kalangan memandang kepemimpinan PBNU saat ini masih diwarnai dinamika internal. Di sisi lain, Prof. Nazaruddin Umar juga menghadapi tantangan tersendiri karena posisinya sebagai Menteri Agama menimbulkan kekhawatiran dari sebagian pihak terhadap independensi NU sebagai organisasi kemasyarakatan.
Dalam analisisnya, Adlan menyoroti pentingnya faktor Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam dinamika Muktamar NU ke-35. Menurutnya, meskipun Cak Imin bukan bagian dari struktur PBNU, posisinya sebagai Ketua Umum PKB membuatnya memiliki kedekatan historis dan ekosistem politik dengan NU.
"Ke mana Cak Imin melabuhkan aliansi di antara dua kubu tersebut, maka kubu itu memiliki ruang kemungkinan lebih besar untuk memenangkan kontestasi di Muktamar NU ke-35," tulisnya.
Namun demikian, Adlan menilai Cak Imin merupakan politisi yang sangat taktis sehingga tidak mudah dipetakan akan berpihak kepada salah satu kandidat. Bahkan, menurutnya, tidak menutup kemungkinan Cak Imin membangun poros ketiga atau mengusung figur alternatif sesuai perkembangan politik menjelang muktamar.
Terkait ketentuan AD/ART NU yang mengharuskan calon Ketua Umum PBNU telah lepas dari struktur partai politik setidaknya satu tahun sebelum muktamar, Adlan menilai hal tersebut merupakan persoalan teknis yang secara historis dapat diselesaikan melalui mekanisme musyawarah dalam forum muktamar.
Di akhir tulisannya, Adlan mengajak publik menunggu dinamika yang akan berkembang hingga pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
"Ala kulli hal, mari kita tunggu dinamika NU hingga puncak Muktamar NU ke-35 dengan segala kemungkinan kejutannya. Sebab, dinamika politik NU kerap menghadirkan hasil yang sulit diprediksi," tulisnya.
Ia juga mengutip pandangan analis politik Burhanuddin Muhtadi yang pernah menyatakan, "Bukan NU yang kita kenal selama ini jika tidak menghadirkan kejutan-kejutan tak terduga."



