Friday, 28 August 2026

Pemegang Rekor Dunia Tinju 24 Jam Nonstop Takjub dengan Al-Zaytun: “Saya Sangat Terkesan!”

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Perayaan 1 Suro 1448 Hijriah di Ma'had Al-Zaytun menghadirkan sosok inspiratif dari ujung timur Indonesia. Patrick Winata, atlet tinju asal Fakfak, Papua Barat, yang tercatat sebagai pemegang rekor dunia Guinness World Records setelah bertinju selama 24 jam nonstop dalam 223 ronde, hadir untuk berbagi motivasi kepada ribuan santri dan santriwati.

Dalam kesempatan tersebut, Patrick mengaku sangat terkesan dengan lingkungan pendidikan, kedisiplinan, serta berbagai kemajuan yang dibangun di Al-Zaytun. Kunjungan itu merupakan pengalaman pertamanya datang ke pesantren yang dikenal sebagai salah satu kawasan pendidikan berasrama terbesar di Indonesia.

"Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi Al-Zaytun dan jujur saya sangat terkesan melihat semangat, kedisiplinan, dan kemajuan yang dibangun di tempat ini. Sebuah kehormatan bagi saya bisa berdiri di hadapan ribuan generasi muda Indonesia hari ini," ujarnya.

Dari Papua Barat Menuju Rekor Dunia

Mengawali perkenalannya dengan rendah hati, Patrick menyebut dirinya hanyalah seorang anak bangsa yang lahir dan tumbuh di Papua Barat. Namun dari daerah paling timur Indonesia itulah ia berhasil menorehkan sejarah di tingkat dunia.

Saat ini, Patrick dikenal sebagai satu-satunya orang yang berhasil mencatatkan rekor bertinju selama 24 jam tanpa henti. Namun baginya, pencapaian tersebut bukanlah tujuan utama.

"Yang jauh lebih penting dari rekor itu adalah tujuan di baliknya, yaitu menggalang dukungan dan harapan bagi anak-anak penderita kanker," katanya.

Di hadapan para santri, Patrick kemudian memutar dokumentasi perjuangannya dalam kegiatan kemanusiaan bertajuk Project 24. Tayangan tersebut menampilkan kisah perjuangan anak-anak penderita kanker yang menjadi inspirasi utama di balik tantangan ekstrem yang dijalaninya.

Video itu menghadirkan suasana haru di antara peserta yang menyaksikan perjuangan anak-anak dalam menghadapi penyakit yang mereka derita.

Belajar dari Ketangguhan Anak-Anak Penderita Kanker

Menurut Patrick, tantangan bertinju selama 24 jam tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan yang harus dijalani anak-anak penderita kanker setiap hari.

"Ketika saya menyadari perjuangan mereka, saya merasa bahwa tantangan 24 jam yang saya jalani tidak ada apa-apanya. Setiap 24 jam yang mereka lalui jauh lebih berat, jauh lebih menyakitkan, dan jauh lebih menakutkan," ungkapnya.

Ia bahkan mendedikasikan pencapaian rekor dunia tersebut kepada anak-anak yang telah berpulang setelah berjuang melawan penyakit mereka.

Bagi Patrick, keberanian dan ketabahan mereka merupakan inspirasi terbesar dalam hidupnya.

Hijrah sebagai Keberanian Menjadi Lebih Baik

Dalam pidatonya, Patrick mengajak para santri menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum perubahan diri. Ia membuka pesannya dengan sebuah pertanyaan reflektif yang langsung menarik perhatian ribuan peserta.

"Kalau hari ini adalah awal tahun baru Hijriah, versi siapa yang ingin kita bawa setelah ini? Versi lama atau versi yang lebih berani?" tanyanya.

Patrick menjelaskan bahwa perjalanan Project 24 telah mengubah cara pandangnya tentang kehidupan. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik, melainkan pada kemampuan untuk terus melangkah ketika menghadapi kesulitan.

"Dari perjalanan itu saya belajar bahwa kekuatan terbesar manusia bukan berada pada fisiknya. Kekuatan terbesar manusia ada pada kemampuannya untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak mudah," tegasnya.

Ia juga mengaitkan pengalaman tersebut dengan makna hijrah yang diperingati umat Islam setiap tahun.

Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan keberanian untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

"Saya memahami hijrah sebagai keberanian untuk berubah, keberanian untuk maju, dan keberanian menjadi lebih baik lagi dari hari kemarin," ujarnya.

Inspirasi bagi Generasi Muda Indonesia

Kehadiran Patrick Winata dalam Perayaan 1 Suro 1448 Hijriah menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagi para peserta. Kisah perjuangan, kepedulian kemanusiaan, dan semangat pantang menyerah yang dibagikannya memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, peduli terhadap sesama, serta berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melalui pengalaman hidupnya, Patrick menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memecahkan rekor, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pencapaian dapat memberikan harapan dan manfaat bagi orang lain.

Pesan yang dibawanya sejalan dengan semangat yang diusung dalam peringatan 1 Suro 1448 Hijriah di Al-Zaytun, yakni membangun manusia yang tangguh, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan kemanusiaan. (Husna untuk Indonesia)