lognews.co.id, Malang - Ditemui dikediamannya, Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, menyambut hangat kedatangan tim lognews pagi itu, Malang, Jawa Timur (4/8/2023).
Dikenal sebagai sosok pejuang yang mengubah sistem tatanan nyaman kelompok menjadi keberpihakan kepada semua golongan manusia tidak pandang bulu.
Juga seorang yang produktif dengan pemikirannya mendedikasikan hidup dibidang pendidikan, menjadi Rektor perguruan tinggi di UIN Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asyhari Tebu Ireng Jombang, Ketua Kurator Universitas Tebu Ireng Gontor Ponorogo, juga Ketua Majelis Syuro Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Al Ittihadiyah, serta aktif menulis dengan menghasilkan 40 judul buku hasil karyanya.
Prof Imam Suprayogo adalah anak ke 8 dari 16 saudaranya, menceritakan kepada tim lognews saat dirinya bersama sang Ayah, selalu diajarkan untuk berbuat baik dan tidak mengecewakan orang lain.
"Berbuatlah untuk orang lain, lalu kemudian jika sudah berbuat, maka berbuatlah yang terbaik jangan setengah setengah" ujarnya.
Ucapan itu mampu membentuk karakter kepemimpinannya hingga saat ini.Didepan anak anaknya sang Ayah juga menyuruh untuk mencintai masjid.
"Jika kamu menjadi orang kaya, maka bangunlah masjid yang megah, jika tidak kaya bangunlah masjid yang kecil atau musholah, jika kurang mampu juga, kamu membangun, maka bantu pakai uang kepada orang yang membangun masjid, jika tidak punya uang juga maka bantu dengan tenaga, jika kamu tenaga juga tidak bisa, miskin, akupun tidak akan kecewa, asalkan kamu mau jadi isinya masjid" ujar Imam Suprayogo menirukan Ayahnya.
Terbukti saat dirinya diamanahkan menjadi Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Malang hingga 13 tahun yang semestinya hanya 8 tahun (2 periode), hingga didapuk memimpin STAIN Malang oleh Kemenag, pada saat itu dipimpin Surya Dharma Ali, yang sekarang diubah oleh dirinya menjadi UIN Malang, karena kekhawatiran Menteri Agama saat itu jikalau sistem yang sudah dibangun oleh Prof Imam Suprayogo tidak dilanjutkan.
Namun ditolak oleh dirinya karena sudah lama memimpin dan dianggap orang lain masih bisa menggantikannya dengan kriteria menyukai Kampusnya, Dosen, Mahasiswa, dan keluarga kampus.
Dijelaskan olehnya mencontohkan bahwa dalam memimpin harus menempatkan posisi orang lain berdasarkan yang mereka inginkan, lanjut prof bercerita saat memperkerjakan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang berkeliaran sekitar kampus untuk membantu membersihkan area luar kampus yang saluran airnya kadang mampet karena sesak sampah terutama saat banjir dengan gaji 5 ribu rupiah.
Suatu ketika dirinya melihat pekerjaan yang dilakukan seperti berat karena harus menjaga pagi hingga sore dan diberikan tambahan 10 ribu tapi ditolak dengan alasan konsisten dengan gajinya, sontak ruangan menjadi ramai tawa, oleh orang yang hadir mendengar kisah tersebut.
Menyinggung apa yang dilakukan Panji Gumilang menurutnya, persis seperti yang Ia alami ketika mengadakan perubahan tapi distigma dan dipersekusi pribadinya.
"karena Syaykh Panji Gumilang mengambil keputusan yang berbeda pada umumnya, dan itu ada resiko, saya dulu juga begitu" ujar Imam
Menurutnya Panji Gumilang seorang pancasilais, dan pluralisme seperti yang pernah dilakukannya saat di Universitas Islam, memberikan gelar Honoris Causa kepada Gubernur yang bukan islam dalam hal membangun masyarakat yang majemuk.
Dijelaskan kepada penentang kebijakannya bahwa kita hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika dan sebagai kampus yang rasional menghargai orang yang berprestasi.
Keputusan yang tidak biasa dan tidak mudah diterima oleh sekitar kampus baginya adalah lumrah, seperti saat dirinya ingin orang lain juga merasakan kebahagiaan seperti dirinya dengan memberikan jas kepada semua keluarga kampus dari satpam, hingga tukang sapu, lantaran dirinya diberikan hadiah jas oleh kampus.
Tindakannya berhasil menuai protes dan cibiran yang tidak terima, bahkan merasa predikat dosennya disamakan dengan tukang sapu. Dirinya beranggapan bahwa saat pimpinan kampus diberikan hadiah, selama ini tidak diprotes bawahan, kenapa saat orang lain diberikan hadiah timbul protes.
Keputusan yang dianggap tidak biasa itu dimaksudkan agar selama hidupnya, keluarga kampus jadi bisa mempunyai jas.
"Bisa untuk kondangam, nikahan, manten, sunatan, dengan begitu punya kebanggaan dan tidak perlu beli lagi" ujarnya.
Saat ditanyakan oleh wartawan senior Nasution, bahwa tidak bisa menjadi "eskrim" yaitu pemimpin yang bisa memuaskan semua orang.
Prof Imam Suprayogo menjawab bahwa arti menyamaratakan kebijakan dengan konspep berkeadilan bagi seluruh manusia dengan tetap pertimbangan pada moment tertentu disesuaikan dengan kondisi tertentu namun tetap diberi penjelasan terhadap orang yang tidak sependapat dengan keputusannya.
Untuk maju menurutnya harus berubah, namun kenyataannya kesalahpahaman justru timbul ditengah masyarakat.
Dijelaskan oleh Prof Imam Suprayogo bahwa masyarakat awam mendapatkan informasi dan kapabilitas dalam memahami suatu masalah berbeda beda, sedangkan yang mengajak maju sudah terlebih dahulu mendapatkan informasi, filosofis, dan sudah merumuskan, otomatis mencernanya akan berbeda.
Dalam menyikapi perdebatan, menurutnya kata kata harus ada yang diwakilkan dengan benda yang sama sama diketahui, dirinya menganalogikan jika kata ditambahkan kata lain maka hanya menjadi kata kata, dan terus didebatkan karena tidak bertemu dengan pemahaman "benda" yang sama.
Untuk itu diperlukan tabayun untuk mengetahui benda yang sedang dibicarakan, maka kata harus mewakili benda agar hadir kesepemahaman yang sama.
Selanjutnya wartawan senior Nasution, kembali menanyakan, apakah ada yang salah dengan cara berkomunikasi sehingga kebenaran atau perbedaan harus disalahkan dan dipersekusi ?
"Berarti apanya dulu dong, supaya bisa diterima?" tanya Nasution.
Menurutnya apabila menunggu masyarakat maka tidak akan menjadi keputusan yang membawa perubahan.
"Kalau menurut saya, jika harus menunggu masyarakatnya akan lama sekali, gak akan berubah, untuk itu oerku kita tarik bagaiamana agar masyarakat berubah tapi itu punya resiko" ujarnya.
"Kalau hanya disuruh nunggu, saya ini bukan satpam penunggu gardu listrik, Saya ini Rektor" tegasnya.
"Lalu kok saya memposisikan sebagai satpam penunggu gardu, ya saya gak mau, saya mau berubah terlebih saya ini bangsa Indonesia, hidup sekali jadi raja kecil saja kok harus seperti ini, saya tidak mau saya mau berubah" tambahnya.
Dirinya juga menceritakan perjuangannya mengubah STAIN menjadi UIN Malang dengan menginisiasi demo ke Kemenag di Jakarta dengan memboyong semua mahasiswanya naik kereta , agar bisa mendorong percepatan pendidikan dikampusnya.
Sehingga dirinya dipanggli ke kantor Kemenag dan didemo dengan sangkaan mendangkalkan ilmu agama , namun berjalannya waktu apa yang diperjuangkan dianggap betul,
"Program mahad dianggap betul, program pengembangan bahasa arab dianggap betul, perubahan sekolah tinggi IAIN menjadi UNES jadi betul" ungkapnya.
"Sebenarnya masyarakat itu kepingin berubah, sebetulnya kita ini gelisah, kenapa terus Indonesia dibilang terbelakang kalah dengan Singapura, Malaysia saja kalah apalagi dengan negara negara barat" tambahnya.
"Kita gelisah dipidato pidato setiap hari oleh pejabat pejabat, Walikota, Gubernur, Bupati Presiden, Menteri, supaya maju, untuk maju kan butuh berubah " ujarnya
"Tapi tak lama kita berubah kemudian kita dianggap salah" tambahnya.
Seperti Panji Gumilang, semua perjuangannya, Prof Imam Suprayogo menganggap gagasan memang harus dikeluarkan agar tetap terwujud kebaikan yang diinginkan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai anak bangsa yang ingin maju dan bermanfaat dalam hidupnya.
"Ya, kalau saya ya seperti itu (kekeuh) Lha wong saya ingin yang tebaik kok, Orang Tua saya dikampung juga ingin saya yang terbaik. Saya juga dapat arahan yang terbaik". Tegasnya (Amr-untuk Indonesia)


