Tuesday, 10 February 2026

Ketua MUI Tasikmalaya Ate Mushoddiq, Berikan Gelar Mujaddid Syaykh Panji Gumilang

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id, Menghadiri undangan spesial Syaykh Al Zaytun, penulis buku cara mudah mempelajari alfiah, KH. Ate Mushaddiq Bahrum, memberikan pandangannya dimilad ke 77 tahun Prof. DR. Abdussalam Panji Gumilang, M.P.

Dalam acara yang digelar Minggu (30/07/23) seorag tokoh Ketua MUI Tasikmalaya, biasa dipanggil Ajengan Ate kehadirannya dalam misi pencerahan kepada umat yang terpengaruh berita viral di media.

“Saya bagaimana mencerdaskan umat islam yang masih primitif, yang masih taat kepada hoax, kiyai kiyai yang tidak jelas ilmunya, tdak jelas pesantrennya, yang tidak berbuat apa apa, dijadikan masukan kepada pemerintah dan MUI pusat, saya mencerdaskan bahwa musuh islam ada dua, kebodohan dan kemiskinan”, ungkap Ajengan Ate.

Dirinya menjelaskan kedatangannya sebagai pertanggung jawaban setiap kata yang diucapkan tentang Al Zaytun di kanal youtube lognewstv,  untuk mengedepankan tabayun, sehingga sebelum menjadi pembicara diperayaan Milad Syaykh ke 77, dilingkaran majelis ilmu, dalam Masjid Rahmatan Lil Alamin.

“Alhamdulilah direspon dengan komentar yang postif, yang masih memikirkan pesantren al zaytun bukan saya saja tapi dalam komentarnya banyak yang setuju” ujarnya terenyuh.

“Yang berkomentar, kiyai yang menyejukan, kiyai yang mendamaikan, padahal saya tahu dari youtube tentang Zaetun, karena saya sudah ngomong di youtube, saya wajib silaturahim, karena dalam saran saya harus tabayun” lanjutnya.

lognews mui

Ajengan Ate memaparkan hasil tabayunnya dimana pesantren Al Zaytun, dengan pemikiran visioner Syaykh untuk mulai menanam padi 500 Ha sampai pengemasan, bisa dijual ke pasar modern dan tradisional, maka itulah pendidikan yang benar.

Dalam dialog bertema “Berbincang Tentang Kualitas Pendidikan Menuju Kebangkitan Kembali Indonesia Raya” Ajengan Ate memberikan gelar pembaharu karena mampu mewujudkan fiqih sosial.

“Saya memberikan gelar kepada Syaykh Al Zaytun Prof. DR Mujaddid, ini tentu karena keberhasilan Syaykh didalam melakukan pembaharuan dalam Islam” pungkas Ate.

Kritikan tajam dari Kiyai Ate yang juga pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Muta’alimin Tasikmalaya, menyindir gelar Profesor Doktor, khususnya Profesor Doktor Agama tidak mempraktekan gelarnya dengan produktifitas langsung.

“Sebab yang saya kaji, pendidikan diluar negeri, maaf bagi profesor doktor, terutama profesor doktor agama, yang cuma belajar teoritis saja tidak aplikatif, kalau diluar negeri, yang disebut profesor doktor  adalah Akademis Business Government (ABG) jadi di daerah miskin perlu ada riset penelitian untuk mengebangkan daerah sehingga ada perubahan”.

Sejak kedatangannya pagi hari di wisma Al Zaytun, jam 9:00 WIB, Ajengan Ate langsung berkeliling melihat visi misi Al Zaytun yang melekat pada tiap dinding gedung, seperti yang ada di pintu masuk gedung Soeharto, Universitas IAI AL Aziz yang disambut oleh teks lagu Indonesia Raya 3 Stanza.

Dengan semangat nasionalisme peserta kegiatan keliling komplek Al Zaytun, berdiri menyanyikan lagu lengkap yang dipajang besar besar dipapan lebar pojok kanan dan kiri gerbang gedung IAI AL Aziz dan dijelaskan makna permakna oleh pemandu Tsabit.

Ajengan Ate berkomentar untuk memberi saran di lirik "disanalah".

“harusnya jangan disana aku berdiri, tapi disinilah aku berdiri” bilang ate sehingga membuat yang hadir diajak berfikir dan mencerna dengan ukuran rasionalitas.

Turut hadir Sudirman Abas Dosen UIN Jakarta, Ketua MUI Tasik Malaya KH. Ate Mushodiq Bakhrum, Evry Joe Humas Parfi, Fahrurozi dari Nurcholis Majid Institut, Amsal Prof. Dr., Bahtiar Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Monique Rijkers aktivis Yahudi, KH. Fuad mantan pegawai Kemenag yang melakukan investigasi di Al Zaytun tahun 2002 – 2003, Anwar Budiman.  (Amr-untuk Indonesia)