Saturday, 05 September 2026

Malaysia Lakukan Hujan Buatan untuk Atasi Kabut Asap dari Karhutla Kalimantan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

LOGNEWS.CO.ID - Pemerintah Malaysia mulai menggelar operasi penyemaian awan atau hujan buatan selama tiga hari untuk mengurangi dampak kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia. Operasi tersebut dimulai pada Kamis, 3 September 2026, dan difokuskan di wilayah Negara Bagian Sarawak yang mengalami penurunan kualitas udara hingga mencapai level berbahaya.

Langkah darurat ini diambil setelah kabut asap pekat kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Sarawak. Berdasarkan data Komite Manajemen Bencana Sarawak, sedikitnya tujuh lokasi mencatat Indeks Pencemar Udara (API) di atas angka 300, yang masuk kategori berbahaya dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Wilayah dengan kondisi terburuk berada di Serian, sekitar 60 kilometer di tenggara Kota Kuching. Di daerah tersebut, API tercatat mencapai 475, menunjukkan kualitas udara berada pada tingkat yang sangat membahayakan.

Kabut asap juga mulai berdampak pada kesehatan warga. Peningkatan kasus gangguan pernapasan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah yang terdampak asap, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Untuk mengurangi konsentrasi polutan sekaligus meningkatkan curah hujan, pemerintah Malaysia memusatkan operasi penyemaian awan di sekitar tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta 13 kawasan daerah tangkapan air di Sarawak.

Operasi ini melibatkan Angkatan Udara Malaysia, Badan Penanggulangan Bencana Nasional Malaysia, dan Departemen Meteorologi Malaysia. Sebuah pesawat C-130 disiagakan di Pangkalan Angkatan Udara Kuching untuk menyemprotkan larutan garam ke awan pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki di wilayah yang menjadi sasaran.

Ketua Komite Manajemen Bencana Sarawak, Douglas Uggah Embas, mengatakan penyemaian awan tidak hanya bertujuan meredakan kabut asap, tetapi juga meningkatkan cadangan air di bendungan menjelang periode cuaca yang diperkirakan lebih panas dan kering dalam beberapa waktu ke depan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan hujan buatan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Penyemaian awan hanya dapat dilakukan apabila tersedia formasi awan yang cukup dan kondisi atmosfer mendukung proses pembentukan hujan.

Pihak berwenang Malaysia terus memantau perkembangan awan, curah hujan, dan kondisi atmosfer selama operasi berlangsung untuk mengevaluasi efektivitas penyemaian dalam mengurangi kabut asap yang melanda Sarawak. (Saheel untuk Indonesia)