lognews.co.id, Jakarta — Kondisi banyak pohon di perkotaan Indonesia dinilai belum terkelola optimal akibat keterbatasan ruang tumbuh, minim pemeriksaan rutin, dan belum adanya standardisasi nasional kesehatan pohon. Situasi ini meningkatkan risiko cabang patah hingga pohon tumbang yang berpotensi membahayakan keselamatan warga. (19/2/26)
Di berbagai kota, pohon ditanam di trotoar sempit dengan ruang akar tertutup konblok, berdekatan dengan bangunan, atau berada di area padat utilitas bawah tanah. Ruang akar yang terbatas membuat struktur pohon tidak berkembang maksimal sehingga rentan terhadap cuaca ekstrem dan genangan air.
Padahal pohon kota memiliki fungsi ekologis vital, seperti menurunkan suhu, menyerap karbon, menyaring polusi udara, meredam kebisingan, dan mendukung kesehatan mental masyarakat. Dalam konteks urbanisasi dan perubahan iklim, keberadaan pohon menjadi bagian dari sistem ketahanan lingkungan kota.
Arboris merupakan profesi yang fokus pada perawatan individu pohon melalui pendekatan arborikultur. Tugasnya mencakup pemangkasan sesuai standar keselamatan, penilaian risiko kegagalan struktur, serta pemulihan pohon yang mengalami stres lingkungan. Edukasi profesi ini di Indonesia salah satunya digencarkan oleh Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI).
Secara ideal, pohon di kawasan padat aktivitas seperti sekolah, taman kota, dan jalan utama diperiksa secara berkala. Masyarakat juga dapat melakukan deteksi awal secara visual dengan memperhatikan tanda seperti pertumbuhan jamur pada batang, dominasi daun kering, retakan besar, atau lubang pada batang.
Bila dalam pengecekan awal ditemukan indikator tidak sehat, pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan oleh arboris. Pada tahap ini digunakan perangkat khusus seperti Sonic Tomograph dan Resistograph untuk menganalisis kondisi internal batang pohon secara ilmiah.
Sonic Tomograph bekerja dengan mendeteksi kepadatan kayu melalui gelombang bunyi yang dikirim dari dalam batang pohon. Sensor akan merekam gelombang tersebut dan mengubahnya menjadi peta warna yang menunjukkan tingkat kepadatan dari berbagai sisi batang, sehingga area keropos dapat teridentifikasi tanpa merusak struktur.
Sementara itu, Resistograph digunakan untuk mendeteksi pembusukan internal melalui teknik pengeboran mikro. Alat ini mengukur tingkat resistensi kayu saat dibor sehingga dapat diketahui bagian batang yang mengalami pelapukan atau penurunan kekuatan struktural.
Hingga kini, Indonesia belum memiliki standardisasi nasional penilaian kesehatan pohon. Penyusunan standar tersebut tengah didorong agar pemerintah daerah memiliki pedoman teknis dalam pengelolaan pohon kota.
Penguatan peran arboris dan regulasi kesehatan pohon dinilai penting untuk mencegah risiko sebelum terjadi insiden. Perawatan berbasis ilmu tidak hanya menjaga estetika ruang hijau, tetapi juga melindungi keselamatan publik dan memastikan keberlanjutan ekosistem perkotaan. (Amri-untuk Indonesia)


