الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Syaykh Al-Zaytun: Dari Delapan Dekade Pengabdian Menuju Novum Gradum

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

Oleh: Ali Aminulloh

(Disarikan dari pengantar Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.AP., pada Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun)

lognews.co.id - Delapan puluh tahun bukan sekadar hitungan usia. Di balik perjalanan panjang itu tersimpan jejak pengabdian, keteguhan, serta konsistensi dalam menjaga gagasan di tengah perubahan zaman. Setiap fase kehidupan menghadirkan tantangan dan keputusan yang membentuk arah perjalanan seseorang, hingga akhirnya melahirkan pengalaman, kebijaksanaan, dan warisan pemikiran.

Suasana itulah yang terasa dalam peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, yang diselenggarakan pada Kamis, 30 Juli 2026, di Ma'had Al-Zaytun. Mengusung tema "Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan," peringatan tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas bertambahnya usia, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan panjang seorang pendidik yang dinilai telah memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan, kebangsaan, dan pembangunan peradaban.

Hadir dalam kesempatan itu berbagai tokoh nasional, sahabat Syaykh, akademisi, keluarga besar Al-Zaytun, serta tamu undangan dari berbagai latar belakang. Mereka berkumpul bukan hanya untuk memberikan ucapan selamat, tetapi juga menyaksikan bagaimana perjalanan delapan dekade tersebut dipahami sebagai proses panjang yang sarat dengan nilai, pengalaman, dan dedikasi.

Melalui pengantar yang disampaikan Eji Anugrah Romadhon, seluruh hadirin diajak memandang usia ke-80 sebagai momentum untuk membaca kembali kematangan berpikir, kebijaksanaan, perjalanan spiritual, serta konsistensi pengabdian Syaykh Al-Zaytun. Dari sanalah diperkenalkan kembali gagasan Novum Gradum, yaitu langkah baru menuju tingkatan peradaban yang lebih tinggi.

Delapan Dekade Bukan Sekadar Angka

Dalam pengantarnya, Eji menegaskan bahwa delapan puluh tahun tidak boleh dipandang sekadar deretan angka pada kalender. Nilai kehidupan tidak ditentukan oleh lamanya usia, melainkan oleh bagaimana waktu digunakan untuk belajar, berkarya, membangun, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Menurutnya, seseorang dapat memiliki usia yang sama, tetapi meninggalkan jejak kehidupan yang berbeda. Ada yang menjalani hidup tanpa arah yang jelas, sementara ada pula yang menjadikan setiap fase kehidupannya sebagai ruang untuk terus belajar, mengembangkan gagasan, dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Karena itu, perjalanan delapan dekade Syaykh Al-Zaytun dipandang sebagai perjalanan yang melahirkan pengalaman, kebijaksanaan, serta keteguhan dalam menjaga orientasi pengabdian.

Konsistensi Menjaga Arah Pengabdian

Eji juga menyoroti pentingnya konsistensi sebagai salah satu makna dari perjalanan panjang tersebut. Konsistensi, menurutnya, bukan berarti mempertahankan cara lama tanpa perubahan, melainkan menjaga tujuan sambil terus menyesuaikan langkah dengan perkembangan zaman.

Dalam dunia pendidikan, perubahan merupakan keniscayaan. Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat berubah, dan metode pembelajaran terus mengalami pembaruan. Namun, perubahan tersebut tidak boleh membuat lembaga kehilangan identitas serta nilai-nilai dasarnya.

Di sinilah, menurut Eji, konsistensi Syaykh Al-Zaytun terlihat melalui perhatian yang terus diberikan terhadap pembangunan manusia melalui pendidikan. Gagasan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diterjemahkan menjadi sistem pendidikan, kelembagaan, serta budaya belajar yang terus berkembang.

Kematangan yang Dibentuk Pengalaman

Usia delapan puluh juga dipandang sebagai simbol kematangan. Dalam pengantarnya, Eji menyebut bahwa seorang oktogenarian bukan hanya seseorang yang telah mencapai usia delapan puluh tahun, tetapi juga pribadi yang ditempa oleh perjalanan hidup yang panjang.

Kematangan itu lahir dari perpaduan antara ilmu pengetahuan dan pengalaman. Berbagai tantangan, keberhasilan, maupun kegagalan menjadi bagian dari proses yang membentuk cara berpikir seseorang.

Pemikiran yang matang, menurutnya, tidak lahir dari banyaknya pengetahuan semata, tetapi dari kemampuan melihat persoalan secara utuh, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta mengambil keputusan yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian

Eji memandang bahwa perjalanan Syaykh Al-Zaytun tidak hanya dapat dibaca sebagai perjalanan intelektual, tetapi juga perjalanan spiritual dan pengabdian.

Baginya, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan upaya membentuk manusia yang utuh, memiliki karakter, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral.

Dedikasi dalam dunia pendidikan juga menuntut kesabaran lintas generasi. Hasilnya tidak selalu dapat dinikmati secara langsung, tetapi akan terlihat ketika para peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itulah, membangun lembaga pendidikan membutuhkan ketekunan, keteguhan, serta komitmen yang tidak mudah padam.

Novum Gradum Menuju Peradaban

Salah satu pokok pemikiran yang ditekankan dalam pengantar tersebut adalah Novum Gradum, yang dimaknai sebagai langkah baru menuju tingkatan peradaban yang lebih tinggi.

Menurut Eji, kemajuan tidak cukup dicapai dengan mengulang pola lama. Dunia berubah begitu cepat sehingga pendidikan juga harus mampu melakukan lompatan melalui pembaruan cara berpikir, sistem pembelajaran, maupun pengembangan sumber daya manusia.

Namun, lompatan tersebut tetap harus berpijak pada nilai-nilai yang telah dibangun sebelumnya. Kemajuan bukan berarti meninggalkan fondasi, melainkan mengembangkannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Dalam pandangan itu, Novum Gradum menjadi dorongan agar lembaga pendidikan tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga melahirkan manusia yang sanggup menciptakan perubahan bagi masyarakat.

Mensyukuri Pencapaian, Menjaga Masa Depan

Tema Milad Ke-80, "Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan," mengandung pesan bahwa rasa syukur tidak boleh berhenti pada perayaan.

Pencapaian yang telah diraih harus menjadi pijakan untuk melanjutkan perjalanan. Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya kualitas manusia, pendidikan, karakter, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Pada bagian akhir pengantarnya, Eji mengajak seluruh keluarga besar Al-Zaytun untuk memandang pencapaian Syaykh sebagai pencapaian bersama. Gagasan seorang pemimpin hanya dapat berkembang melalui kerja sama, kepercayaan, dan dedikasi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya.

Karena itu, menjaga keberlanjutan gagasan menjadi tanggung jawab bersama.

Dari Refleksi Menuju Tindakan

Bagi Eji, refleksi hanya akan bermakna apabila melahirkan tindakan nyata. Guru, santri, pengelola, alumni, dan seluruh keluarga besar Al-Zaytun memiliki peran untuk menerjemahkan gagasan ke dalam karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan semangat Novum Gradum, perjalanan delapan dekade Syaykh Al-Zaytun dipandang bukan sebagai titik akhir, melainkan pijakan untuk melahirkan langkah-langkah baru menuju peradaban yang lebih maju.

Melalui konsistensi, pembaruan, serta kerja bersama, nilai-nilai yang telah dibangun diharapkan terus hidup dan berkembang, sehingga warisan pengabdian tersebut dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.