Oleh : Ali Aminulloh (Disarikan dari ungkapan Sahabat pada Milad Syaykh Al Zaytun ke 80)
INDRAMAYU, lognews.co.id - Delapan puluh tahun kehidupan bukan hanya kumpulan angka yang menandai panjang usia. Di dalamnya terdapat jejak pendidikan keluarga, keteladanan orang tua, perjumpaan dengan lingkungan sosial, pergulatan gagasan, kesetiaan para sahabat, dan keberanian mengubah cita-cita menjadi karya nyata. Jejak panjang itulah yang kembali dibaca dalam Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, pada Kamis, 30 Juli 2026, dengan tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan.”
Setelah panitia membuka rangkaian penyampaian pesan-pesan Milad, tokoh pertama yang memperoleh kesempatan berbicara adalah Ustadz M. Nurdin Abu Tsabit, S.Sos., M.A.P. Ia tidak datang sekadar membawa ucapan selamat ulang tahun. Sebagai salah seorang sahabat yang mengikuti perjalanan Syaykh Al-Zaytun sejak masa awal, ia memperoleh amanah untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Syaykh Al-Zaytun dan dari mana karakter serta gagasan-gagasannya terbentuk.
Dengan mengawali salam dan pekik “Merdeka!”, Ustaz Abu Tsabit mengajak hadirin melihat Syaykh Al-Zaytun tidak hanya dari bangunan megah, lembaga pendidikan, kegiatan pertanian, industri, atau berbagai pencapaian yang tampak pada masa kini. Ia membawa hadirin menelusuri akar kehidupan yang membentuk pribadi Syaykh Al-Zaytun, dimulai dari keluarga, lingkungan pesantren, masyarakat pesisir, hingga pengalaman membantu pekerjaan pemerintahan desa sejak usia sekolah dasar.
Menurut Ustadz Abu Tsabit, terdapat dua karakter utama yang sangat kuat dalam diri Syaykh Al-Zaytun. Pertama, semangat keindonesiaan yang mendalam. Kedua, nilai religius yang kokoh. Kedua karakter itu tidak lahir secara tiba-tiba. Keduanya tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan keluarga, lingkungan sosial, pengalaman pemerintahan, serta perjumpaan dengan dunia pertanian dan kehidupan masyarakat desa.
Untuk memudahkan hadirin memahami perjalanan tersebut, Ustadz Abu Tsabit membagi kehidupan Syaykh Al-Zaytun ke dalam empat fase. Fase pertama merupakan masa basis dan membangun formulasi akal yang berlangsung sejak 1946 hingga dekade 1970-an. Fase kedua adalah masa pembentukan gagasan dan konsolidasi jaringan pada dekade 1980-an hingga 1990-an.
Fase ketiga merupakan masa eksekusi megaproyek yang dimulai sekitar 1994 dan berkembang pada dekade 2000-an. Adapun fase keempat adalah masa pengembangan industri, kemandirian pangan, dan pendidikan modern, yang berlangsung sejak 2010 hingga sekarang.
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Syaykh Al-Zaytun tidak dapat dipahami hanya berdasarkan urutan usia. Setiap fase memiliki tantangan, orientasi, dan bentuk pengabdian yang berbeda. Satu fase menjadi landasan bagi lahirnya fase berikutnya. Dengan demikian, Al-Zaytun bukan karya yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses pendidikan, pematangan gagasan, konsolidasi kekuatan, dan pelaksanaan cita-cita dalam rentang waktu yang panjang.
Lahir dari Lingkungan Pesantren dan Masyarakat Pesisir
Fase pertama perjalanan Syaykh Al-Zaytun dimulai dari kelahirannya di Sidayu, Gresik, pada 30 Juli 1946. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren sekaligus masyarakat pesisir. Dua lingkungan tersebut menjadi ruang awal pembentukan watak, pandangan hidup, dan kepekaan sosialnya.
Lingkungan pesantren membentuk fondasi spiritual dan tradisi keilmuan. Sementara itu, masyarakat pesisir memperkenalkannya kepada kehidupan yang terbuka, dinamis, dan erat dengan kegiatan perdagangan. Kehidupan pesisir juga mempertemukan masyarakat dengan beragam latar belakang, kebiasaan, serta kepentingan ekonomi.
Dari lingkungan itulah dapat dipahami mengapa Syaykh Al-Zaytun kemudian memiliki perhatian yang kuat terhadap agama, negara, pemerintahan, pertanian, ekonomi, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut bukan hanya diperolehnya melalui pendidikan formal. Semuanya telah hadir dalam pengalaman hidup sejak masa kanak-kanak.
Kehidupan seorang tokoh pada masa dewasa sering kali merupakan kelanjutan dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Demikian pula perjalanan Syaykh Al-Zaytun. Pandangan keagamaannya memiliki hubungan dengan pendidikan yang diberikan sang ibu. Perhatiannya terhadap negara, pemerintahan, pertanian, dan ekonomi berakar pada pengalaman bersama sang ayah.
Keluarga menjadi sekolah pertama yang membentuk cara seorang anak mengenal Tuhan, manusia, masyarakat, dan tanggung jawabnya. Sebelum memasuki ruang kelas, seorang anak telah lebih dahulu belajar melalui cerita, keteladanan, kebiasaan, percakapan, dan pekerjaan yang berlangsung di dalam lingkungan keluarga.
Aqidatul Awam dan Pendidikan Keimanan dari Sang Ibu
Pendidikan awal Syaykh Al-Zaytun diperoleh dari ibundanya. Sang ibu mengenalkannya kepada dasar-dasar keimanan melalui pelajaran Aqidatul Awam. Dari pelajaran tersebut, ia mulai mengenal para nabi, kitab-kitab Allah, dan pokok-pokok keyakinan dalam Islam.
Pendidikan tersebut tidak berhenti pada kemampuan menghafal nama-nama nabi atau kitab-kitab suci. Sang ibu menanamkan pemahaman bahwa seluruh nabi harus dihormati. Tidak seorang pun di antara para nabi boleh dihina atau direndahkan.
Melalui pendidikan itu, Syaykh Al-Zaytun sejak kecil diajarkan untuk mengenal Nabi Muhammad saw., Nabi Isa, Nabi Musa, serta nabi-nabi lainnya. Ia juga dibimbing untuk mengimani Al-Qur’an sekaligus kitab-kitab Allah yang telah diturunkan sebelumnya.
Ajaran tersebut kemudian menjadi fondasi sikap toleran dalam dirinya. Toleransi tidak dipahami sebagai gagasan yang lahir belakangan karena tuntutan hubungan sosial modern. Toleransi justru berakar pada keyakinan agama bahwa para nabi berasal dari sumber risalah yang sama dan seluruh kitab Allah harus diimani.
Dengan demikian, sikap menghormati perbedaan tidak ditempatkan di luar ajaran agama. Penghormatan itu justru menjadi bagian dari konsekuensi keimanan. Seorang yang beriman tidak hanya menjaga keyakinannya sendiri, tetapi juga menghindari sikap merendahkan nabi, kitab, dan tradisi keagamaan yang berkaitan dengan risalah Tuhan.
Pendidikan dari sang ibu membentuk cara Syaykh Al-Zaytun melihat hubungan antara keyakinan dan kemanusiaan. Keimanan harus melahirkan penghormatan, bukan permusuhan. Pengetahuan agama harus membentuk keluasan pandangan, bukan kesempitan sikap.
Nilai tersebut kemudian terlihat dalam berbagai gagasan Syaykh Al-Zaytun mengenai kehidupan bersama. Keberagamaan tidak cukup ditampilkan melalui simbol dan ritual. Agama harus melahirkan watak yang menghormati manusia, menjaga perdamaian, dan membuka ruang bagi kehidupan sosial yang harmonis.
Peran ibunda dalam perjalanan ini sangat penting. Ia bukan hanya mengajarkan materi keagamaan, tetapi juga membangun kerangka berpikir. Melalui pelajaran sederhana di dalam keluarga, sang ibu mewariskan cara memahami agama yang kuat dalam keyakinan sekaligus luas dalam pergaulan.
Dari rumah itulah terbentuk dasar religius Syaykh Al-Zaytun. Fondasi tersebut kelak bertemu dengan pendidikan pesantren, pengalaman kebangsaan, dan perjalanan organisasi. Pertemuan berbagai pengalaman itu kemudian melahirkan corak pemikiran yang berusaha menyatukan religiusitas, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Belajar Pemerintahan dari Sang Ayah
Apabila sang ibu memberikan dasar keagamaan, sang ayah memperkenalkan Syaykh Al-Zaytun kepada kehidupan pemerintahan dan masyarakat. Ayahnya merupakan seorang kepala desa.
Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Syaykh Al-Zaytun telah dilibatkan dalam membantu pekerjaan administrasi desa. Ia membantu menulis berbagai surat yang berkaitan dengan hasil pertanian dan ternak yang akan diperdagangkan.
Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak, keterlibatan dalam administrasi desa merupakan pengalaman pendidikan yang sangat berarti. Dari sana ia mulai mengenal hubungan antara pemerintahan, masyarakat, produksi, perdagangan, dan kesejahteraan.
Ia melihat bahwa tugas kepala desa tidak hanya berkaitan dengan kewenangan formal. Pemerintahan desa berhubungan langsung dengan kebutuhan warga, surat-menyurat, pengelolaan hasil pertanian, peternakan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa pemerintahan bukan sekadar jabatan. Pemerintahan merupakan pelayanan, pengaturan, dan tanggung jawab. Surat yang ditulis bukan hanya kumpulan kata, tetapi bagian dari proses yang memungkinkan hasil pertanian dan peternakan masyarakat diperdagangkan secara tertib.
Sejak usia dini, Syaykh Al-Zaytun telah menyaksikan hubungan erat antara administrasi dan kehidupan ekonomi. Tanpa administrasi yang baik, hubungan perdagangan dapat mengalami hambatan. Tanpa tata kelola yang tertib, hasil produksi masyarakat sulit memberikan manfaat secara optimal.
Dari pengalaman itu pula tumbuh pemahaman mengenai pentingnya pertanian dan peternakan. Keduanya bukan sekadar pekerjaan masyarakat desa, melainkan fondasi kehidupan. Pertanian menyediakan pangan. Peternakan memenuhi kebutuhan gizi dan ekonomi. Perdagangan menghubungkan hasil produksi dengan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Pengalaman membantu sang ayah juga memperkenalkan Syaykh Al-Zaytun kepada fungsi negara dalam skala paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Desa menjadi ruang pertama tempat masyarakat bertemu dengan pemerintahan. Di tingkat desa, kebijakan tidak hadir dalam bentuk teori yang jauh, tetapi dalam pelayanan yang langsung dirasakan warga.
Oleh karena itu, perhatian Syaykh Al-Zaytun terhadap pemerintahan, pertanian, peternakan, dan ekonomi pada masa berikutnya memiliki akar yang panjang. Ia tidak hanya mempelajari tema-tema itu dari buku. Ia telah bersentuhan dengan praktiknya sejak masa kanak-kanak.
Pendidikan Tidak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas
Kisah masa kecil Syaykh Al-Zaytun memperlihatkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Rumah, desa, sawah, kantor pemerintahan, dan kehidupan masyarakat juga merupakan ruang pendidikan.
Dari sang ibu, ia belajar keimanan, penghormatan kepada para nabi, dan toleransi. Dari sang ayah, ia belajar pemerintahan, administrasi, pertanian, peternakan, perdagangan, dan tanggung jawab sosial.
Dua jalur pendidikan tersebut berjalan secara bersamaan. Pendidikan keagamaan memberikan landasan moral. Pengalaman sosial memberikan pemahaman mengenai kehidupan nyata. Keimanan membentuk orientasi nilai, sedangkan pengalaman pemerintahan mengajarkan cara mengelola kehidupan bersama.
Pendidikan semacam ini menghasilkan cara pandang yang tidak memisahkan agama dari kehidupan masyarakat. Agama tidak hanya berada di masjid atau ruang pembelajaran. Nilai agama harus hadir dalam pemerintahan, ekonomi, pertanian, perdagangan, dan hubungan antarmanusia.
Sebaliknya, pengelolaan kehidupan sosial tidak boleh kehilangan fondasi moral. Administrasi membutuhkan kejujuran. Pemerintahan membutuhkan tanggung jawab. Perdagangan membutuhkan keadilan. Pertanian membutuhkan kerja keras dan kepedulian terhadap kelangsungan kehidupan.
Pertemuan antara dasar religius dan pengalaman sosial itulah yang membentuk fase awal kehidupan Syaykh Al-Zaytun. Ustaz Abu Tsabit menyebutnya sebagai fase basis dan formasi akal karena pada masa tersebut fondasi cara berpikir mulai dibangun.
Formasi akal tidak hanya berlangsung melalui hafalan dan pelajaran formal. Akal dibentuk melalui pengalaman, pengamatan, dialog, keteladanan, dan keterlibatan dalam kehidupan nyata. Seorang anak belajar bukan hanya dari apa yang didengarnya, tetapi juga dari apa yang dilihat dan dikerjakannya.
Syaykh Al-Zaytun sejak kecil melihat bagaimana keyakinan agama diajarkan di rumah dan bagaimana pemerintahan dijalankan oleh ayahnya. Ia juga melihat hasil pertanian dan peternakan sebagai bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal dalam membaca persoalan bangsa. Negara membutuhkan manusia yang beriman, tetapi juga memahami pemerintahan. Masyarakat membutuhkan pendidikan, tetapi juga pangan. Lembaga membutuhkan gagasan, tetapi juga tata kelola dan kemampuan produksi.
Akar Semangat Keindonesiaan
Dalam penjelasan Ustaz Abu Tsabit, semangat keindonesiaan Syaykh Al-Zaytun juga memiliki hubungan erat dengan lingkungan tempat ia tumbuh. Sebagai anak seorang kepala desa, ia telah melihat bahwa masyarakat terdiri atas beragam kepentingan yang harus dikelola bersama.
Desa merupakan miniatur kehidupan bernegara. Di dalamnya terdapat pemerintahan, masyarakat, produksi, perdagangan, aturan, dan hubungan sosial. Pengalaman hidup di lingkungan desa mengajarkan pentingnya keteraturan dan tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Semangat kenegaraan tidak selalu dimulai dari pemahaman terhadap teori besar. Ia dapat tumbuh dari pengalaman melihat seorang kepala desa melayani masyarakat, menulis surat, mengatur administrasi, dan membantu warga menjalankan aktivitas ekonominya.
Dalam konteks tersebut, keindonesiaan Syaykh Al-Zaytun bukan hanya identitas simbolik. Keindonesiaan tumbuh dari pemahaman bahwa kehidupan bersama harus diatur, dilayani, dan dijaga.
Negara tidak berdiri di luar rakyat. Negara hadir melalui pelayanan kepada masyarakat. Pemerintahan memperoleh makna ketika mampu membantu warga memenuhi kebutuhannya, menjaga keteraturan, dan mengembangkan kesejahteraan.
Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam gagasan pendidikan Al-Zaytun. Pendidikan tidak diarahkan untuk memisahkan santri dari kehidupan kebangsaan. Sebaliknya, pendidikan harus membentuk manusia yang memiliki kesadaran sebagai warga negara dan mampu memberikan manfaat bagi bangsanya.
Religiusitas dan keindonesiaan tidak dipertentangkan. Keduanya menjadi bagian dari pembentukan manusia yang utuh. Keyakinan memberikan orientasi moral, sedangkan kesadaran bernegara memberikan ruang pengabdian.
Pertanian sebagai Fondasi Kehidupan
Keterlibatan Syaykh Al-Zaytun dalam menulis surat mengenai hasil pertanian dan ternak juga menanamkan pemahaman mengenai arti penting pangan. Sejak kecil, ia melihat bahwa pertanian merupakan bagian utama kehidupan masyarakat.
Padi, hasil kebun, dan ternak bukan hanya barang dagangan. Semuanya berhubungan dengan keberlangsungan hidup keluarga, pendapatan masyarakat, dan stabilitas kehidupan desa.
Pertanian menjadi fondasi karena dari sanalah kebutuhan dasar manusia dipenuhi. Masyarakat dapat membangun pendidikan, industri, dan kebudayaan apabila kebutuhan pangannya tersedia. Sebaliknya, kekurangan pangan dapat melemahkan seluruh sendi kehidupan.
Pengalaman itu dapat membantu menjelaskan mengapa pada fase perkembangan berikutnya Al-Zaytun memberikan perhatian besar terhadap pertanian dan kemandirian pangan. Sawah, peternakan, perikanan, dan pengelolaan komoditas tidak berdiri sebagai kegiatan tambahan. Semuanya merupakan bagian dari sistem kehidupan lembaga.
Kemandirian pangan juga memiliki hubungan dengan kemandirian berpikir dan kelembagaan. Komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah masa depannya.
Sebaliknya, ketergantungan penuh terhadap pihak lain dapat membatasi kemampuan mengambil keputusan. Karena itu, pertanian memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kegiatan produksi. Pertanian berkaitan dengan martabat, ketahanan, dan kebebasan menentukan masa depan.
Walaupun naskah Ustaz Abu Tsabit baru menguraikan secara rinci fase pertama, akar pengembangan industri, kemandirian pangan, dan pendidikan modern dapat mulai dibaca dari pengalaman masa kecil tersebut. Perhatian terhadap pangan dan produksi bukan gagasan yang muncul mendadak, tetapi memiliki hubungan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat tempat Syaykh Al-Zaytun dibesarkan.
Toleransi sebagai Buah Keimanan
Hal lain yang ditekankan Ustaz Abu Tsabit adalah sikap toleran Syaykh Al-Zaytun. Menurutnya, toleransi tersebut berasal dari pendidikan sang ibu yang mengajarkan penghormatan kepada seluruh nabi dan keimanan kepada kitab-kitab Allah.
Pemahaman ini penting karena toleransi sering kali dipandang hanya sebagai sikap sosial untuk menjaga kerukunan. Dalam pengalaman Syaykh Al-Zaytun, toleransi memiliki dasar teologis.
Keimanan kepada para nabi berarti mengakui bahwa Tuhan mengutus pembawa risalah kepada umat manusia dalam berbagai masa. Keimanan kepada kitab-kitab Allah berarti mengakui adanya wahyu yang diturunkan sebelum Al-Qur’an.
Dengan dasar tersebut, seorang Muslim tidak dapat menghina nabi lain atau merendahkan kitab yang menjadi bagian dari sejarah wahyu. Sikap hormat bukan pengurangan terhadap keyakinan sendiri, tetapi pelaksanaan dari keyakinan itu sendiri.
Pendidikan seperti ini membentuk kepercayaan diri keagamaan yang tidak mudah merasa terancam oleh perbedaan. Keyakinan yang kokoh justru memungkinkan seseorang berinteraksi secara terbuka dan hormat dengan manusia lain.
Toleransi kemudian menjadi bagian dari karakter, bukan sekadar strategi menghadapi perbedaan. Ia hadir dalam cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan orang lain.
Nilai itu sangat penting dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Indonesia terdiri atas beragam agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Kehidupan bersama membutuhkan sikap yang mampu menjaga keyakinan sekaligus menghormati keberadaan orang lain.
Dengan demikian, pendidikan agama dari sang ibu tidak hanya membentuk kehidupan spiritual Syaykh Al-Zaytun. Pendidikan tersebut juga memberikan bekal untuk hidup sebagai bagian dari bangsa yang beragam.
Empat Fase sebagai Kerangka Membaca Perjalanan
Pembagian perjalanan Syaykh Al-Zaytun ke dalam empat fase membantu hadirin melihat hubungan antara pembentukan pribadi dan pembangunan karya.
Fase basis dan formasi akal menjadi periode penanaman nilai. Pada masa inilah fondasi keagamaan, toleransi, semangat kenegaraan, perhatian terhadap pemerintahan, pertanian, peternakan, dan ekonomi mulai tumbuh.
Fase gagasan dan konsolidasi jaringan merupakan masa ketika nilai-nilai tersebut berkembang menjadi pemikiran dan hubungan sosial yang lebih luas. Gagasan besar membutuhkan jaringan, sebab sebuah cita-cita tidak dapat diwujudkan seorang diri.
Fase eksekusi megaproyek menunjukkan perubahan dari pemikiran menuju pembangunan nyata. Gagasan yang telah dibentuk dan jaringan yang telah dikonsolidasikan kemudian diarahkan menjadi karya kelembagaan.
Adapun fase industri, kemandirian pangan, dan pendidikan modern memperlihatkan upaya memperkuat keberlanjutan karya. Pendidikan membutuhkan fondasi ekonomi, kemampuan produksi, dan penguasaan teknologi agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Namun, Ustaz Abu Tsabit dalam naskah yang disampaikan baru menguraikan secara khusus fase pertama. Karena itu, tiga fase berikutnya belum dapat dijelaskan lebih jauh tanpa menambahkan informasi di luar sumber.
Meskipun demikian, fase awal telah cukup memberikan gambaran mengenai akar pemikiran Syaykh Al-Zaytun. Apa yang dibangun pada masa dewasa memiliki hubungan dengan pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil.
Membaca Karya melalui Akar Kehidupannya
Penjelasan Ustaz Abu Tsabit mengingatkan bahwa sebuah karya besar tidak dapat dipahami hanya melalui hasil akhirnya. Bangunan, lembaga, sistem pendidikan, pertanian, dan industri memiliki sejarah pemikiran yang panjang.
Untuk memahami Al-Zaytun, orang tidak cukup hanya melihat luas kawasan, jumlah bangunan, atau aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Perlu pula dipahami nilai dan pengalaman yang mendorong pembangunannya.
Nilai itu berawal dari rumah. Seorang ibu mengajarkan Aqidatul Awam, memperkenalkan para nabi, dan menanamkan penghormatan kepada kitab-kitab Allah. Seorang ayah mengajak anaknya mengenal administrasi desa, pertanian, peternakan, dan perdagangan.
Dari pendidikan keluarga tersebut terbentuk pribadi yang religius sekaligus memiliki perhatian terhadap kehidupan sosial. Dari sanalah tumbuh semangat keindonesiaan yang melihat negara bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai organisasi kehidupan bersama.
Akar tersebut kemudian berkembang menjadi perhatian terhadap pendidikan. Pendidikan dipahami bukan sekadar proses menyampaikan pengetahuan, tetapi proses membentuk manusia yang mampu hidup, bekerja, mengelola masyarakat, dan membangun kemandirian.
Pengalaman di desa juga memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak boleh terputus dari realitas pangan, ekonomi, dan pemerintahan. Manusia terdidik harus mampu memahami persoalan konkret masyarakat.
Karena itu, konsep pendidikan yang berkembang di Al-Zaytun tidak hanya berfokus pada ruang kelas. Pendidikan dihubungkan dengan kegiatan produktif, pertanian, peternakan, pengelolaan kelembagaan, dan kehidupan kebangsaan.
Dari Pengalaman Sederhana Menuju Gagasan Besar
Pencapaian besar sering kali memiliki permulaan yang sangat sederhana. Ia dapat berawal dari cerita seorang ibu, pelajaran keagamaan di rumah, atau pekerjaan membantu ayah menulis surat administrasi desa.
Pada saat pengalaman itu berlangsung, mungkin belum terlihat hubungannya dengan pembangunan lembaga pendidikan pada masa depan. Namun, perjalanan hidup menunjukkan bahwa nilai yang ditanamkan sejak kecil dapat berkembang menjadi orientasi jangka panjang.
Pelajaran tentang para nabi berkembang menjadi penghormatan terhadap keragaman. Keimanan kepada kitab-kitab Allah berkembang menjadi sikap toleran. Pengalaman administrasi desa berkembang menjadi perhatian terhadap pemerintahan dan tata kelola.
Keterlibatan dalam urusan hasil pertanian dan ternak berkembang menjadi kesadaran mengenai pentingnya pangan, produksi, perdagangan, dan kemandirian ekonomi.
Semua pengalaman tersebut bertemu dalam perjalanan Syaykh Al-Zaytun. Religiositas, keindonesiaan, pemerintahan, pendidikan, pertanian, dan toleransi bukanlah tema-tema yang berdiri sendiri. Semuanya terhubung oleh proses pembentukan kehidupan sejak masa kanak-kanak.
Oleh karena itu, kesaksian Ustaz Abu Tsabit pada peringatan Milad ke-80 memiliki arti penting. Ia menghadirkan perspektif yang membantu hadirin memahami hubungan antara masa lalu dan masa kini.
Syaykh Al-Zaytun tidak hanya diperkenalkan sebagai tokoh yang telah membangun sebuah lembaga besar. Ia diperlihatkan sebagai pribadi yang dibentuk oleh pendidikan keluarga, masyarakat desa, lingkungan pesantren, dan kehidupan pesisir.
Milad sebagai Momentum MembacaJejak Kehidupan
Peringatan hari lahir ke-80 pada akhirnya bukan hanya ruang untuk memberikan penghormatan. Milad menjadi kesempatan untuk membaca kembali perjalanan dan menemukan nilai yang dapat diwariskan.
Tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” memperoleh makna yang lebih dalam melalui penjelasan Ustaz Abu Tsabit. Mensyukuri pencapaian berarti mengingat bahwa keberhasilan masa kini memiliki akar dalam pendidikan, perjuangan, dan kesetiaan masa lalu.
Terus melangkah menuju kemajuan berarti memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai kenangan. Semangat keindonesiaan harus diwujudkan dalam pengabdian. Nilai religius harus melahirkan penghormatan kepada manusia. Pendidikan harus menjawab kebutuhan masyarakat.
Pertanian dan peternakan harus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian. Pemerintahan dan administrasi harus dijalankan sebagai pelayanan. Toleransi harus dipelihara sebagai bagian dari keyakinan dan kehidupan kebangsaan.
Kesaksian Ustaz M. Nurdin Abu Tsabit dengan demikian menjadi pembuka penting dalam rangkaian pesan-pesan Milad. Ia membawa hadirin menelusuri dasar pembentukan pribadi Syaykh Al-Zaytun sebelum para tokoh lain menyampaikan refleksi mengenai karya dan gagasannya.
Melalui uraian tersebut, hadirin diajak memahami bahwa perjalanan besar selalu dimulai dari pendidikan yang paling dekat dengan manusia. Keluarga menanamkan nilai. Lingkungan memberi pengalaman. Masyarakat membentuk kepekaan. Sejarah kemudian menyediakan ruang bagi nilai dan pengalaman itu untuk diwujudkan menjadi karya.
Dari pelajaran Aqidatul Awam yang disampaikan sang ibu lahir religiusitas dan penghormatan terhadap para nabi. Dari pekerjaan administrasi bersama sang ayah lahir pemahaman mengenai pemerintahan, ekonomi, pertanian, dan kehidupan masyarakat.
Dua sumber pendidikan itu kemudian bertemu dalam pribadi Syaykh Al-Zaytun: kuat dalam keyakinan, luas dalam pandangan, kokoh dalam semangat keindonesiaan, serta memiliki perhatian terhadap pendidikan dan kemandirian masyarakat.
Itulah akar yang, menurut Ustaz Abu Tsabit, perlu dipahami ketika melihat perjalanan Syaykh Al-Zaytun. Sebab sebuah bangunan dapat dilihat dari bentuknya, tetapi suatu peradaban hanya dapat dipahami dengan menelusuri gagasan, nilai, dan pengalaman manusia yang membangunnya.



