الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Upgrading Tutor PKBM Al-Zaytun Dapat Apresiasi Prof. Dr. Sudjarwo, M.Pd., Dinilai Berpotensi Jadi Rujukan Pendidikan Nonformal Nasional

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

INDRAMAYU – Kegiatan Upgrading Tutor yang diselenggarakan PKBM Al-Zaytun pada Selasa, 30 Juni 2026, mendapat apresiasi tinggi dari akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Sudjarwo, M.Pd. Menurutnya, program peningkatan kompetensi tutor tersebut merupakan langkah strategis dalam membangun kualitas pendidikan nonformal yang berdaya saing dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Dalam wawancara bersama Pak Handy dari LognewsTV usai kegiatan, Prof. Sudjarwo mengaku terkesan dengan sistem pendidikan yang diterapkan PKBM Al-Zaytun. Bahkan, ia menghabiskan lebih dari dua jam berkeliling kawasan Al-Zaytun untuk melihat secara langsung berbagai fasilitas dan aktivitas pendidikan yang berlangsung.

"Saya mengapresiasi luar biasa PKBM Al-Zaytun. Saya melihat adanya dukungan yayasan yang kuat, sarana dan prasarana yang lengkap, sumber daya manusia yang baik, serta warga belajar yang berasal dari berbagai kalangan usia. Bahkan ada warga belajar yang usianya lebih dari 70 tahun," ujarnya.

Menurut Prof. Sudjarwo, salah satu keunggulan PKBM Al-Zaytun adalah keberhasilannya mencetak alumni yang kembali mengabdi sebagai tutor. Tidak sedikit lulusan PKBM tersebut yang telah melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor.

"Ini menjadi kebanggaan tersendiri. Tutor-tutor di PKBM Al-Zaytun banyak berasal dari alumninya sendiri. Ada yang sudah S1, S2, bahkan S3. Ini menunjukkan proses pendidikan yang berkelanjutan," katanya.

Pendidikan Terintegrasi Menjadi Kekuatan PKBM Al-Zaytun

Selama melakukan kunjungan lapangan, Prof. Sudjarwo menilai Al-Zaytun memiliki sistem pendidikan yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat di dalamnya. Ia melihat berbagai unit, mulai dari pertanian, peternakan, logistik, hingga pelayanan umum, menjadi bagian dari proses pembelajaran yang nyata.

Menurutnya, seluruh komponen di lingkungan Al-Zaytun didorong untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, bahkan dengan target minimal menyelesaikan pendidikan setingkat SMA.

"Ini adalah modal yang luar biasa. Kualitas organisasi dimulai dari kualitas manusianya. Semua unsur didorong untuk terus belajar sehingga pelayanan kepada masyarakat juga meningkat," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut mencerminkan pengelolaan organisasi yang dibangun secara sistematis dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sebut Al-Zaytun Sebagai Miniatur Pengelolaan Organisasi

Dalam kesempatan itu, Prof. Sudjarwo menyebut Al-Zaytun sebagai salah satu contoh pengelolaan organisasi yang layak dipelajari.

Menurutnya, kekuatan utama sebuah organisasi bukan hanya terletak pada fasilitas, tetapi juga pada semangat kebersamaan serta nilai keikhlasan yang menjadi fondasi dalam bekerja.

"Saya melihat sendiri bagaimana kekompakan itu dibangun. Jika ada persoalan, harus diselesaikan melalui musyawarah. Organisasi sering kali runtuh bukan karena tekanan dari luar, tetapi karena konflik dari dalam," ungkapnya.

Ia meyakini bahwa apabila semangat kebersamaan terus dipertahankan, Al-Zaytun akan mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang semakin besar.

Kurikulum LSTEMS Dinilai Berpotensi Menjadi Model Nasional

Salah satu hal yang juga menarik perhatian Prof. Sudjarwo adalah pengembangan kurikulum LSTEMS yang diterapkan PKBM Al-Zaytun.

Menurutnya, setiap PKBM perlu memiliki identitas dan keunggulan yang membedakannya dari lembaga lain. Ia menilai konsep LSTEMS memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi model pendidikan nonformal apabila disusun berdasarkan kajian akademik yang kuat.

"Kalau kurikulum ini dikembangkan secara sistematis, dilengkapi naskah akademik, kemudian diuji dan dipublikasikan dengan baik, saya yakin bisa menjadi rujukan nasional," katanya.

Ia juga mendorong PKBM Al-Zaytun untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, praktisi pendidikan, dan pemerintah agar model tersebut memiliki landasan ilmiah yang kokoh.

Pendidikan Nonformal Harus Melahirkan Kompetensi, Bukan Sekadar Ijazah

Prof. Sudjarwo menegaskan bahwa keberadaan PKBM tidak boleh hanya dipandang sebagai lembaga pemberi ijazah. Menurutnya, pendidikan nonformal harus mampu membangun kompetensi, keterampilan, serta kecakapan hidup masyarakat.

Ia menilai pendekatan pembelajaran yang diterapkan PKBM Al-Zaytun telah mengarah pada tujuan tersebut karena peserta didik tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui berbagai kegiatan produktif seperti pertanian, peternakan, dan unit usaha lainnya.

"Belajar tidak cukup hanya melalui buku. Pembelajaran harus menghasilkan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat," ujarnya.

Model Pendidikan Harus Dibangun Berdasarkan Data dan Penelitian

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan menjadikan model PKBM Al-Zaytun sebagai rujukan nasional, Prof. Sudjarwo menjelaskan bahwa setiap inovasi pendidikan harus melalui proses ilmiah yang komprehensif.

Ia menyebutkan bahwa model pembelajaran perlu melalui asesmen kebutuhan, penyusunan desain, validasi oleh para ahli, uji coba terbatas, pengujian efektivitas, hingga evaluasi dampak sebelum direkomendasikan kepada pemerintah.

"Semua kebijakan pendidikan saat ini harus berbasis data. Jika model ini terbukti layak, praktis, dan efektif, maka sangat mungkin menjadi referensi bagi pemerintah dalam pengembangan pendidikan nonformal," jelasnya.

Dorong Tutor PKBM Percaya Diri dan Terus Berkembang

Dalam pesannya kepada para tutor, Prof. Sudjarwo menekankan bahwa peningkatan kompetensi bukan sekadar agenda rutin, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas lembaga.

Ia mengajak seluruh tutor PKBM untuk tidak merasa berada di bawah pendidikan formal karena lulusan pendidikan nonformal memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan maupun berkarier.

"Jangan pernah merasa nomor dua. Yang menentukan kualitas bukan jenis lembaganya, tetapi kompetensi dan integritas sumber daya manusianya," tegasnya.

Kesan Bertemu Sheikh Al-Zaytun

Prof. Sudjarwo juga mengungkapkan kesan positif setelah bertemu langsung dengan Sheikh Al-Zaytun. Menurutnya, ia melihat sosok pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan dalam membangun pendidikan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai perhatian terhadap pendidikan seluruh warga, penataan lingkungan yang asri, serta dorongan untuk terus meningkatkan kualitas akademik merupakan bagian dari visi besar yang sedang dibangun Al-Zaytun.

"Beliau tidak hanya memikirkan pembangunan lembaga, tetapi juga peningkatan kesejahteraan seluruh warga. Itu yang saya tangkap dari pertemuan kami," tuturnya.

Menutup wawancara, Prof. Sudjarwo berharap PKBM Al-Zaytun terus menjaga kualitas, memperkuat inovasi pembelajaran, serta mempertahankan semangat kebersamaan. Dengan langkah tersebut, ia optimistis PKBM Al-Zaytun berpeluang menjadi salah satu mercusuar pendidikan nonformal di Indonesia.

 

 (Sahil untuk indonesia)