الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Al-Zaytun Jadi Laboratorium Toleransi di tengah polarisasi Dunia

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

Oleh : Ali Aminulloh

INDRAMAYU, lognews.co.id – Mahad Al-Zaytun bersama Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang dialog peradaban dengan menyelenggarakan Seminar Internasional pada 10 Juni 2026. Forum akademik bergengsi ini menghadirkan tiga guru besar lintas negara dan lintas disiplin ilmu, yakni Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, Prof. Dr. H. Idzam Fautanu, serta Prof. Dr. Joshua David Holman dari Amerika Serikat. Turut hadir pula Wakil Rektor Bidang Administrasi IAI AL-AZIS, Dr. Irvan Iswandi, bersama jajaran pimpinan kampus dan sivitas akademika.

Mengusung tema besar “Theology and Popular Culture”, seminar ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan akademik, tetapi juga wahana mempertemukan berbagai tradisi intelektual dalam semangat saling memahami dan menghargai perbedaan. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan keagamaan di berbagai belahan dunia, Al-Zaytun menawarkan model dialog yang berpijak pada pendidikan, literasi, dan kemanusiaan universal.

Salah satu momen penting dalam pembukaan seminar adalah sambutan dari perwakilan Lutheran Heritage Foundation (LHF) Indonesia, Imelda V.M. Aritonang, M.A., M.M., yang menyampaikan refleksi mendalam tentang hubungan panjang antara Al-Zaytun dan komunitas Lutheran yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Jejak Persahabatan yang Melampaui Sekat Perbedaan

Dalam sambutannya, Imelda mengenang hubungan historis yang bermula dari almarhum mertuanya, Pendeta Dr. S.M. Siahaan, yang pernah mengajar Bahasa Ibrani di Al-Zaytun atas undangan Syaykh AS Panji Gumilang. Pada masa itu, berbagai isu dan stigma tentang toleransi sempat menimbulkan keraguan. Namun pengalaman langsung berinteraksi dengan lingkungan Al-Zaytun justru menghadirkan kesan yang berbeda.

Foto: Ibu Iimelda V.M. Aritonang, M.A.,A.M. 

Menurut Imelda, almarhum Pendeta Siahaan selalu pulang dari Al-Zaytun dengan cerita tentang kehangatan, penghormatan, dan ketulusan yang diterimanya. Bagi beliau, Al-Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah kedua yang membuka ruang pengabdian tanpa dibatasi identitas agama maupun latar belakang sosial. Hubungan yang terbangun itu bahkan terus berlanjut hingga kini, meskipun sang pendeta telah wafat belasan tahun lalu.

“Kehadiran saya hari ini adalah bentuk nyata bahwa silaturahmi tersebut terus berlanjut,” ungkap Imelda di hadapan peserta seminar. Baginya, hubungan yang telah dirintis generasi sebelumnya merupakan amanah yang harus dijaga dan diteruskan.

Literasi sebagai Jalan Membangun Peradaban

Imelda menjelaskan bahwa Lutheran Heritage Foundation merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan dan literasi. Melalui kegiatan penerjemahan, penerbitan, distribusi, serta pengajaran berbagai karya teologi Reformasi, LHF berupaya memperluas akses masyarakat terhadap sumber-sumber pengetahuan yang berkualitas.

Menurutnya, visi tersebut memiliki titik temu yang kuat dengan misi pendidikan Al-Zaytun. Keduanya sama-sama meyakini bahwa pendidikan yang bermutu harus dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang sosial. Literasi dipandang sebagai instrumen strategis untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka dan beradab.

Kesamaan visi inilah yang kemudian melandasi kerja sama intelektual antara LHF dan Al-Zaytun dalam menghadirkan pembicara internasional, termasuk Prof. Joshua David Holman yang menjadi keynote speaker pada seminar kali ini.

Menghapus Stigma Melalui Pertemuan Akademik

Kehadiran Prof. Joshua David Holman memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar partisipasi akademik. Menurut Imelda, salah satu alasan utama mengundang akademisi asal Amerika Serikat tersebut adalah untuk memberikan pengalaman langsung mengenai realitas kehidupan Islam di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat Barat yang memiliki persepsi keliru terhadap umat Islam dan kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Karena itu, Al-Zaytun dipandang sebagai tempat yang tepat untuk menunjukkan praktik toleransi yang hidup dan berkembang dalam dunia pendidikan. Melalui kunjungan tersebut, diharapkan Prof. Holman dapat menjadi saksi sekaligus penyampai narasi yang lebih objektif mengenai Islam Indonesia kepada masyarakat internasional.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendalam: bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang damai, terbuka, dan menghargai keberagaman.

Al-Zaytun sebagai Laboratorium Toleransi

Dalam kesempatan tersebut, Imelda juga menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan Al-Zaytun yang dinilainya konsisten menjaga visi besar pendidikan mandiri. Menurutnya, keberhasilan membangun kawasan pendidikan yang luas dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan visioner Syaykh Panji Gumilang yang selalu berani berpikir jauh ke depan dan melampaui batas-batas konvensional.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa fondasi utama yang memungkinkan berbagai pencapaian tersebut adalah nilai toleransi. Toleransi, menurutnya, bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendasar dalam kehidupan global yang semakin kompleks. Hubungan antara keluarga Siahaan, Lutheran Heritage Foundation, para akademisi Muslim, dan komunitas Al-Zaytun menjadi contoh konkret bagaimana toleransi dapat diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi bahan diskusi teoritis.

Ia menyebut institusi pendidikan dan ruang akademik sebagai laboratorium terbaik untuk menumbuhkan sikap saling menghormati. Melalui dialog ilmiah yang inklusif, berbagai prasangka dapat diluruhkan dan digantikan oleh pemahaman yang lebih jernih. Dari ruang-ruang akademik seperti inilah jembatan perdamaian dapat dibangun, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Merawat Dialog, Meneguhkan Perdamaian

Seminar Internasional Al-Zaytun tahun ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antarmanusia yang berbeda keyakinan, budaya, dan tradisi intelektual.

Foto: Sesi Foto Bersama dengan Panitia IAI AL-AZIS (Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia)

Kehadiran para guru besar dari Indonesia dan Amerika Serikat, serta partisipasi aktif lembaga lintas agama seperti Lutheran Heritage Foundation, memperlihatkan bahwa dialog yang dibangun atas dasar penghormatan dan keterbukaan masih menjadi harapan paling rasional untuk menghadapi tantangan dunia modern.

 

Di tengah berbagai ketegangan global yang sering dipicu oleh prasangka dan stereotip, Al-Zaytun menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat: perdamaian dapat tumbuh ketika pendidikan, literasi, dan toleransi berjalan beriringan. Sebuah pesan yang relevan bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. (Sahil untuk Indonesia)