الجمعة، 06 شباط/فبراير 2026

Politeknik Tanah Al-Zaytun Indonesia Raya Maju Pesat: Tim Senin, Alumni Awasi Spun Pile hingga Penanaman Durian Hitam

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

 lognews.co.id, Indonesia – Menghantarkan generasi pelanjut menjemput Indonesia Emas di umur 100 tahun di tahun 2045, Syaykh Al-Zaytun, Syaykh Panji Gumilang membangun pusat vokasi yang diberi nama Politeknik Tanah Al-Zaytun Indonesia Raya (Politeknik Tanah AIR).

Visinya sangat berani, ajakan untuk berubah dari mentalitas "pengikut" menjadi "pemimpin" yang berdiri di atas kaki sendiri. Kita butuh kemandirian intelektual agar kemerdekaan benar-benar menjadi nyata bagi anak bangsa dengan perombakan total kurikulum! Sembilan puluh persen harus fokus pada vokasi dan politeknik.

Tujuannya jelas, agar lulusan terapan menjadi tenaga ahli yang membangun negeri sendiri, bukan sekadar jadi pesuruh di tanah orang, sehingga dampak nyata untuk Indonesia tidak lagi sebatas mimpi atau butiran cita namun dengan jalan satu satunya yaitu melalui Pendidikan kontemporer, mengembalikan kiblat pendidikan karena Indonesia harus lebih mandiri, harus mandiri energi, berdaulat pangan, demi Indonesia Abadi.

Gagasan besar tidak bisa dilakukan dengan omon omon sepanjang hari, sejak 28 Oktober 25 kegiatan peletakan batu penjuru pertama untuk Pembangunan Politeknik yang dihadiri oleh Bupati Indramayu Lucky Hakim bersama para pelaku didik dan para dosen dan rektor dari universitas kemudian dengan perencanaan matang kini pada tanggal 5 Desember 26 menjadi hari ke-36 kegiatan pengawasan pelaksanaan Pembangunan pusat vokasi Politeknik Tanah AIR.

Tugas utamanya memastikan menanam kesadaran menumbuhkan kemanusiaan menjadi unsur Law sebagai landasan Politeknik dibangun, hari senin menjadi tugas bagi Tim Pengawas “Senin” yang terdiri dari Ali Aminulloh Rizal Eka Sumadya, Agung Setyawan, dan Moh. Imamudinussalam,

Dihari sebelumnya top soil di area Pembangunan Politeknik sudah banyak yang dipindah dan disimpan, sebagai pusat pedidikan yang memiliki nalar dan kesadaran top soil diperlakukan layaknya barang berharga, di Ma’had Al – Zaytun top soil adalah emas hitam, dan dalam tugas saat itu, Tim Senin fokus pada pengawasan spun pile, pemindahan pohon jati dan penanaman durian oleh Ma’had Al Zaytun dengan sebutan Kadu hideung.

Demi merancang bangunan yang bisa bertahan ribuan tahun maka dibutuhkan spun pile untuk menerima beban serta mendisitribusikannya menuju lapisan tanah keras, kini baru terpasang total 5 Spun pile untuk segmen 3 di sisi sebelah timur, dan total sudah ada 95 spun pile ditanam dengan ukuran 12 meter plus 6 meter

Kemudian dengan kondisi jalan yang terus terguyur hujan, membuat jalur pemindahan pohon jati menjadi becek sehingga dari tim lapangan berusaha mengeraskan jalan terlebih dahulu kemudian setelah siang ini dimulai pemindahan, pada siang tersebut terdapat dua pohon yang berhasil dipindahkan dengan total keseluruhan mencapai 153 pohon yang dipindahkan.

Tak kalah seru melihat berbagai berbagai tantangan dan kesibukan ditengah hutan area Mas Kumambang Ma’had Al-Zaytun, ada penanaman durian hitam atau kadu hideung yang sampai sekarang ini sudah tertanam 1.676 pohon di lokasi Andalus yaitu sebelah Jalan Remontada, Basis dan Wali Songo kemduian merambah ke Selatan Jalan PU.

Pada penugasan Tim Senin terdapat alumni Ma'had Al-Zaytun yang tergabung dalam Ikatan Alumni Ma’had Al-Zaytun (IKAMAZ) menunjukkan aksi nyata membangun masa depan Pendidikan. Imam mengungkapkan rasa syukur lebih dari 7 tahun bersekolah di Ma’had Al-Zaytun dan pada hari ini menjadi waktu baginya dan para teman-teman alumni menanam kembali untuk anak dan cucu generasi ke depan. Sebagai perwakilan alumni angkatan ke-8, Imam, menegaskan komitmen kuat 17.000 lebih alumni jadi momen kesadaran melalui pembangunan Politeknik Tanah Air bahwa ternyata Al-Zaytun dibuat oleh kita, dari kita, dan untuk kita.

Untuk itu sebagai pribadi dan juga perwakilan alumni Ia mengajak seluruh lulusan lintas angkatan untuk berkontribusi, baik berupa ide, pemikiran, maupun dukungan material, guna mewujudkan pusat pendidikan tinggi yang mandiri di kampus pusat pendidikan tersebut.

WhatsApp Image 2026 01 07 at 22.17.59

Sementara itu dilahan terpisah di lahan PU Agung Setyawan, Koordinator Seni Ma'had Al-Zaytun bersama Waluyo dari Unit Pertanian, penanggung jawab lahan selatan PU menjelaskan tugas pengawas memastikan penanaman durian sesuai SOP, berita gembiranya dari peneilitian oleh orang profesional melaporkan untuk tanah areal penanaman kadu hideung ini gembur karena bekas tanaman kacang yang cocok untuk durian setinggi 1-1,5 meter. Target penanaman bergantung bibit dan tenaga, dengan 11 pekerja dan 2 ekskavator hari itu.

Ma'had Al-Zaytun tumbuh dari perjuangan besar dikembangkan secara mandiri yang terus bergerak konsisten membangun dan mendidik wujudkan Indonesia yang abadi bukan mengajak bermimpi dan bercita namun membangun kesadaran, bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, sadarlah hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya sekata dengan antheme Indonesia raya tiga stanza, Indonesia tanah AIR ku, tanah kita yang kaya dan Indonesia tanah yang suci. (Amri-untuk Indonesia)