INDRAMAYU, lognews.co.id – Peluncuran Program Sekolah Garuda oleh pemerintah pada 8 Oktober 2025 menjadi salah satu langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Program ini dirancang sebagai sekolah berstandar global yang diharapkan mampu mencetak talenta terbaik dan calon pemimpin masa depan Indonesia.
Namun, di tengah optimisme tersebut, sejumlah kalangan akademisi mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan nasional tidak cukup hanya berfokus pada penciptaan kelompok elite akademik. Salah satu kritik tersebut disampaikan dalam artikel yang diterbitkan oleh The Conversation Indonesia, yang menyoroti potensi munculnya kesenjangan baru apabila pembangunan pendidikan lebih banyak diarahkan kepada sekolah unggulan dibanding pemerataan kualitas pendidikan secara nasional.
Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa persoalan utama pendidikan Indonesia saat ini masih berkaitan dengan rendahnya kualitas pembelajaran massal. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.
Menurut analisis tersebut, sistem seleksi ketat berbasis prestasi akademik berpotensi lebih menguntungkan peserta didik yang berasal dari daerah dengan fasilitas pendidikan yang sudah maju. Sementara itu, siswa di wilayah tertinggal masih menghadapi berbagai keterbatasan mulai dari infrastruktur, kualitas guru, hingga akses terhadap sumber belajar.
Pemerataan Pendidikan Menjadi Tantangan Utama
Kritik terhadap Sekolah Garuda sejatinya membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai arah pembangunan pendidikan Indonesia. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana mencetak siswa terbaik, melainkan bagaimana memastikan seluruh anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Dalam konteks inilah, gagasan yang selama bertahun-tahun dikemukakan oleh Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, kembali menjadi relevan untuk diperbincangkan.
Syaykh Al-Zaytun sejak lama mengusung konsep pembangunan pusat-pusat pendidikan terintegrasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Gagasan tersebut bahkan diarahkan pada pembangunan hingga 500 titik pusat pendidikan nasional yang dapat menjadi simpul pengembangan sumber daya manusia di berbagai daerah.
Berbeda dengan pendekatan yang berfokus pada pembentukan sekolah unggulan dalam jumlah terbatas, konsep ini menitikberatkan pada perluasan akses pendidikan berkualitas secara merata. Setiap pusat pendidikan dirancang tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, pengembangan keterampilan, kemandirian ekonomi, pertanian modern, teknologi, hingga penguatan nilai kebangsaan.
Dari Pusat Keunggulan Menuju Jaringan Pendidikan Nasional
Pengamat pendidikan menilai bahwa Indonesia memerlukan kombinasi antara penciptaan pusat keunggulan dan pemerataan akses pendidikan. Sekolah unggulan dapat berfungsi sebagai laboratorium inovasi, namun pemerataan tetap menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia nasional.
Gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan yang diusulkan Syaykh Al-Zaytun menawarkan perspektif berbeda. Jika Sekolah Garuda berupaya mengumpulkan siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah ke dalam satu sistem unggulan, maka konsep pusat pendidikan nasional berupaya menghadirkan kualitas pendidikan ke berbagai daerah sehingga masyarakat tidak harus meninggalkan lingkungan asalnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Model ini dinilai lebih dekat dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki tantangan geografis dan kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Menyiapkan Indonesia Emas 2045
Indonesia diperkirakan akan memasuki puncak bonus demografi menjelang tahun 2045. Karena itu, pembangunan pendidikan tidak hanya membutuhkan institusi-institusi berkelas dunia, tetapi juga sistem yang mampu menjangkau sebanyak mungkin anak bangsa.
Pendidikan yang kuat bukan hanya melahirkan segelintir lulusan unggulan, melainkan mampu meningkatkan kualitas seluruh lapisan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam kerangka tersebut, gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional yang selama ini dikembangkan dan didorong oleh Syaykh Al-Zaytun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif strategi pemerataan pendidikan nasional. Konsep ini berupaya menjawab persoalan mendasar pendidikan Indonesia, yakni ketimpangan akses, kualitas, dan kesempatan belajar antarwilayah.
Apabila Sekolah Garuda hadir sebagai simbol pencarian talenta terbaik bangsa, maka pembangunan jaringan pusat pendidikan nasional dapat menjadi instrumen untuk memastikan bahwa talenta-talenta tersebut lahir dari seluruh pelosok Indonesia, bukan hanya dari daerah yang telah lebih dahulu maju.
Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak hanya bertumpu pada hadirnya sekolah-sekolah unggulan, tetapi juga pada terbangunnya ekosistem pendidikan nasional yang merata, inklusif, dan mampu menjangkau seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. (Sahil untuk Indonesia)



