INDRAMAYU, lognews.co.id – Peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah yang digelar Ma'had Al-Zaytun pada Selasa, 16 Juni 2026, tidak hanya menjadi momentum refleksi tahun baru Islam, tetapi juga ruang dialog kebangsaan yang mempertemukan tokoh lintas agama, akademisi, praktisi, dan berbagai elemen masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu peserta yang hadir adalah Ibu Dr. Kartini Istiqomah, S.E., M.M., seorang akademisi dan dosen yang untuk pertama kalinya mengunjungi Ma'had Al-Zaytun. Dalam keterangannya, ia mengaku terkesan dengan sistem pendidikan, budaya toleransi, serta konsep pengembangan sumber daya manusia yang diterapkan di lingkungan Al-Zaytun.
Kesan Pertama terhadap Al-Zaytun
Dr. Kartini mengungkapkan bahwa kunjungan pertamanya ke Al-Zaytun memberikan pengalaman yang berbeda dari bayangannya selama ini.
Menurutnya, Al-Zaytun merupakan kawasan pendidikan yang luas, tertata dengan baik, serta menunjukkan kesungguhan dalam membangun sistem pendidikan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang.
Ia melihat Al-Zaytun bukan hanya sebagai lembaga pendidikan biasa, melainkan sebuah pusat pembelajaran yang memiliki visi besar dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.
"Ketika pertama kali datang, saya melihat sebuah kawasan pendidikan yang sangat besar dan terkelola dengan baik. Ini menunjukkan adanya keseriusan dalam membangun pendidikan," ujarnya.
Toleransi yang Hadir dalam Kehidupan Nyata
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Dr. Kartini adalah suasana toleransi yang dirasakannya selama mengikuti rangkaian kegiatan 1 Muharam.
Ia mengaku bertemu dengan banyak tamu yang berasal dari berbagai latar belakang agama, etnis, budaya, dan profesi. Seluruh peserta dapat berinteraksi secara harmonis dalam suasana yang penuh penghormatan dan persaudaraan.
Menurutnya, toleransi yang dikembangkan di Al-Zaytun bukan sekadar konsep teoritis, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Toleransi yang saya lihat di sini bukan hanya disampaikan dalam forum, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata," katanya.
Ia juga menilai keterlibatan perempuan dalam berbagai forum dan aktivitas menunjukkan adanya penghargaan terhadap peran perempuan dalam pembangunan pendidikan dan masyarakat.
Dukung Gagasan 500 Pusat Pendidikan Nasional
Dalam forum tersebut, Dr. Kartini turut memberikan tanggapan terhadap gagasan pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi yang diperkenalkan Syaykh Panji Gumilang.
Menurutnya, gagasan tersebut merupakan ide besar yang patut diapresiasi. Namun, ia menilai keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan yang telah ada.
Ia berpandangan bahwa pembangunan pendidikan harus dilakukan melalui pendekatan sinergis antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan institusi pendidikan agar menghasilkan dampak yang lebih luas.
"Yang terpenting adalah membangun kolaborasi. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Semua pihak harus terlibat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia," ujarnya.
Pendidikan Harus Menghasilkan Keterampilan dan Karakter
Sebagai akademisi, Dr. Kartini menyoroti persoalan yang saat ini dihadapi dunia pendidikan Indonesia, yakni masih adanya kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga harus mampu membentuk keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Ia mengapresiasi model pendidikan Al-Zaytun yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan berbagai aktivitas produktif seperti pertanian, peternakan, usaha, dan praktik keterampilan lainnya.
Menurutnya, pendekatan seperti itu mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan kehidupan nyata.
"Pendidikan harus memberikan knowledge dan skill secara bersamaan agar lulusan benar-benar siap berkontribusi di masyarakat," jelasnya.
Pentingnya Pendidikan Berasrama yang Terencana
Dr. Kartini juga menyampaikan dukungannya terhadap konsep pembangunan pusat pendidikan berasrama yang dilengkapi kawasan produktif dan lahan praktik.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh dilakukan secara instan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan hanya dapat dicapai melalui proses yang terencana dengan baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi.
Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas manajemen yang diterapkan dalam sistem pendidikan tersebut.
"Semua harus dibangun melalui proses. Pendidikan yang baik memerlukan pengelolaan yang baik pula," katanya.
Perempuan Harus Menjadi Bagian dari Kemajuan Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Kartini juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pembangunan nasional.
Menurutnya, perempuan merupakan setengah dari populasi Indonesia sehingga memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa.
Ia mengapresiasi keterlibatan santriwati Al-Zaytun dalam berbagai kegiatan produktif, termasuk aktivitas pertanian, keterampilan, dan berbagai program pengembangan diri lainnya.
Menurutnya, perempuan memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai sektor apabila diberikan kesempatan dan pembinaan yang memadai.
"Perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan pembangunan bangsa," ujarnya.
Integritas Harus Menjadi Tujuan Pendidikan
Selain kecerdasan dan keterampilan, Dr. Kartini menekankan pentingnya integritas sebagai tujuan utama pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak cukup diukur dari jabatan, prestasi akademik, atau posisi yang diraih, tetapi juga dari kualitas moral dan karakter yang dimiliki.
Karena itu, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, empati, toleransi, serta integritas yang kuat.
"Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas," tegasnya.
Persatuan sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa
Menanggapi tema kegiatan "Memperkokoh Persatuan demi Terwujudnya Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global", Dr. Kartini menilai tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Menurutnya, persatuan harus terus diperkuat melalui sikap saling menghormati, toleransi, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen masyarakat mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas berbagai perbedaan latar belakang.
Pendidikan Masa Depan Harus Mengintegrasikan Tiga Unsur Utama
Di akhir keterangannya, Dr. Kartini menyampaikan bahwa pendidikan masa depan harus mampu mengintegrasikan tiga unsur utama, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan nilai-nilai moral serta keagamaan (religion).
Menurutnya, perpaduan ketiga unsur tersebut akan melahirkan generasi yang unggul, berdaya saing, berkarakter, serta mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
"Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang cerdas, terampil, dan berintegritas. Ketiga unsur itu harus berjalan bersama," pungkasnya.



