الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Dr. Johan Pasaribu: Al-Zaytun Bukan Sekadar Pesantren, tetapi Model Pendidikan Nasional Masa Depan

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Peringatan 1 Syuro 1448 Hijriah yang digelar Ma'had Al-Zaytun pada Selasa, 16 Juni 2026, menghadirkan berbagai tokoh nasional, akademisi, cendekiawan, dan pemimpin lintas agama dalam sebuah forum kebangsaan yang mengusung tema "Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global."

Salah satu tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Ir. Johan Pasaribu. Dalam pandangannya, Al-Zaytun tidak dapat dipahami hanya sebagai sebuah pondok pesantren, melainkan sebagai pusat pendidikan yang memiliki visi besar dalam membangun masa depan Indonesia melalui pengembangan sumber daya manusia yang unggul, mandiri, dan berkarakter.

Al-Zaytun Dinilai Mengimplementasikan Amanat UUD 1945

Menurut Dr. Johan Pasaribu, orientasi pendidikan yang dikembangkan Al-Zaytun tidak hanya berfokus pada pengajaran agama, tetapi juga menyentuh tujuan yang lebih luas sebagaimana amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkontribusi dalam upaya mengentaskan kemiskinan serta kebodohan.

Ia menilai Al-Zaytun merupakan salah satu lembaga pendidikan yang secara konsisten menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan karakter kepada para peserta didiknya.

"Yang saya lihat di Al-Zaytun bukan hanya pendidikan agama, tetapi juga pendidikan kebangsaan, karakter, dan pembangunan manusia Indonesia secara utuh," ujarnya.

Sistem Berasrama Dinilai Efektif Membentuk Karakter

Dr. Johan mengaku terkesan dengan sistem pendidikan berasrama yang diterapkan Al-Zaytun. Menurutnya, pembentukan akhlak, integritas, disiplin, dan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses pendidikan yang berlangsung secara menyeluruh selama dua puluh empat jam.

Ia mengamati secara langsung kehidupan para peserta didik yang menjalani aktivitas secara teratur, mulai dari bangun dini hari, melaksanakan ibadah, mengikuti kegiatan akademik, hingga berbagai aktivitas yang menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan.

Foto: Bapak Dr. Ir. Johan Pasaribu

Baginya, pendidikan berasrama memberikan ruang yang lebih luas untuk membentuk karakter dibandingkan sistem pendidikan yang hanya berlangsung beberapa jam di ruang kelas.

Pendidikan Vokasi Menjadi Kekuatan Al-Zaytun

Selain pendidikan formal, Dr. Johan juga menyoroti keberhasilan Al-Zaytun dalam mengintegrasikan pendidikan vokasi dan keterampilan praktis ke dalam proses pembelajaran.

Ia melihat secara langsung bagaimana para peserta didik terlibat dalam kegiatan pertanian, peternakan, dan berbagai aktivitas produktif lainnya yang memberikan pengalaman nyata sejak dini.

Menurutnya, pendekatan tersebut sangat penting karena mampu mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan ekonomi masyarakat.

"Pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan. Di sinilah pentingnya pendidikan vokasi," katanya.

Dukung Gagasan 500 Pusat Pendidikan Berasrama

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Johan Pasaribu juga menyatakan dukungannya terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama yang diperkenalkan Syaykh Panji Gumilang.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan model pendidikan yang mampu membentuk manusia unggul, memiliki integritas, keterampilan, semangat kebangsaan, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Ia menegaskan bahwa konsep pendidikan berasrama tidak harus dipahami sebagai model yang eksklusif bagi kelompok tertentu, melainkan dapat menjadi sistem pendidikan nasional yang inklusif dan terbuka bagi seluruh anak bangsa.

Karena itu, ia berharap gagasan tersebut dapat dipahami dan memperoleh dukungan yang lebih luas, termasuk dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Pendidikan dan Pengentasan Kemiskinan Tidak Bisa Dipisahkan

Menurut Dr. Johan, pembangunan pendidikan harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat.

Ia menilai bahwa peningkatan kualitas pendidikan tanpa diikuti penguatan ekonomi masyarakat akan sulit menghasilkan perubahan yang signifikan. Sebaliknya, pembangunan ekonomi yang tidak ditopang oleh pendidikan juga akan kehilangan fondasi jangka panjang.

Karena itu, ia menilai konsep kemandirian yang dikembangkan Al-Zaytun melalui sektor pertanian, peternakan, koperasi, dan berbagai unit usaha produktif merupakan contoh keterpaduan antara pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam pandangannya, model tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

Politeknik Tanah Air Dinilai Visioner

Salah satu perhatian utama Dr. Johan Pasaribu adalah pentingnya pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

Ia menilai pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menghasilkan tenaga kerja terampil yang siap menghadapi kebutuhan dunia industri dan pembangunan nasional.

Menurutnya, berbagai negara maju berhasil meningkatkan daya saing sumber daya manusianya karena memberikan perhatian besar terhadap pendidikan vokasi.

Karena itu, rencana pendirian Politeknik Tanah Air yang digagas Al-Zaytun dinilai sebagai langkah yang visioner dan relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini.

Ia meyakini pendidikan vokasi dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran terdidik sekaligus meningkatkan produktivitas nasional.

Syaykh Panji Gumilang Dinilai Menerjemahkan Gagasan Besar Bangsa

Dalam penilaiannya terhadap Syaykh Panji Gumilang, Dr. Johan menyebut sosok tersebut sebagai figur yang mampu menangkap dan menerjemahkan gagasan besar para pendiri bangsa ke dalam praktik pendidikan yang nyata.

Menurutnya, visi yang dikembangkan Syaykh Panji Gumilang tidak hanya berorientasi pada pembangunan lembaga pendidikan, tetapi juga pada pembangunan manusia Indonesia yang unggul, produktif, dan memiliki karakter kuat.

Ia menilai keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan yang berorientasi pada masa depan.

Pendidikan, Ekonomi, dan Karakter Harus Berjalan Bersama

Di akhir wawancara, Dr. Johan Pasaribu menegaskan bahwa pendidikan, pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, dan pembentukan karakter merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan model pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, keterampilan, dan kemampuan berkontribusi bagi masyarakat.

Karena itu, berbagai praktik pendidikan yang telah dikembangkan di Al-Zaytun dinilai dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan nasional dalam menghadapi tantangan masa depan.

"Kalau Indonesia ingin maju, maka pembangunan manusia melalui pendidikan harus menjadi prioritas utama. Pendidikan adalah fondasi bagi kemandirian dan kemajuan bangsa," pungkasnya. (Sahil untuk Indonesia)