الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Cahaya Pengabdian Tetap Menyala: Al Zaytun Mengantar Doa untuk Ust. Ahmad Fauzi Abdul Halim

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

 

lognews.co.id - Malam itu, langit Al Zaytun seakan menyimpan duka yang dalam. Ribuan langkah berjalan perlahan menuju tempat berkumpul, membawa satu rasa yang sama: kehilangan. Bukan sekadar kehilangan seorang guru, melainkan kehilangan seorang pejuang pendidikan yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyalakan cahaya ilmu bagi generasi bangsa. 

Kepergian Ust. Ahmad Fauzi Abdul Halim, S.Sos., M.P. pada 15 Juni 2026 meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus waktu. Namun di Al Zaytun, cinta dan penghormatan kepada mereka yang telah berpulang tidak berhenti pada air mata. Ia diwujudkan dalam doa-doa yang terus mengalir, menjadi jembatan kasih antara yang hidup dan yang telah mendahului.

Tradisi tahlilan merupakan warisan luhur umat Islam dalam mendoakan mereka yang wafat. Lazimnya dilaksanakan sejak hari pertama hingga hari ketujuh, kemudian dilanjutkan pada hari ke-40 dan ke-100. Tradisi ini menjadi ungkapan cinta keluarga kepada almarhum, sekaligus harapan agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya.

Di Ma'had Al Zaytun, tradisi tersebut memiliki warna yang khas dan sarat makna peradaban.

Pada malam pertama setelah wafatnya almarhum, ribuan santri, mahasiswa, guru, dosen, eksponen yayasan, serta perwakilan karyawan memenuhi tempat pelaksanaan tahlilan. Acara dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC.

Usai salat Magrib berjamaah, lantunan istigfar menggema khusyuk. Dzikir demi dzikir mengalir dari bibir para jamaah. Asmaul Husna dibaca penuh penghayatan, disusul Asmaun Nabi yang lengkap berjumlah 201 nama, bersumber dari kitab Dalail al-Khairat. Bacaan Al-Qur'an dan doa-doa penutup semakin menguatkan suasana haru yang menyelimuti malam itu. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan salat Isya berjamaah.

Namun penghormatan Al Zaytun tidak berhenti pada satu malam.

Di maqbarah, lantunan Al-Qur'an terus hidup selama 24 jam tanpa jeda selama 40 hari penuh. Setiap hari dibagi menjadi enam sesi, masing-masing berlangsung empat jam. Dalam setiap sesi, tiga orang pembaca bergantian melantunkan ayat-ayat suci. Dengan pola tersebut, setiap hari terlaksana dua kali khataman Al-Qur'an.

Yang lebih mengesankan, kegiatan ini melibatkan seluruh unsur keluarga besar Al Zaytun. Mulai dari eksponen yayasan, dosen, guru, mahasiswa hingga karyawan, semuanya mengambil bagian. Tidak ada sekat jabatan ataupun status. Semua bersatu dalam satu tujuan mulia: menghadiahkan doa terbaik bagi seorang insan yang telah berjasa.

Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan. Lebih dari itu, ia merupakan manifestasi sebuah peradaban yang menghargai pengabdian. Sebuah pendidikan karakter yang mengajarkan bahwa jasa dan keteladanan tidak boleh dilupakan ketika seseorang telah tiada.

Melalui tahlilan dan pembacaan Al-Qur'an yang berkesinambungan, Al Zaytun menunjukkan bahwa menghormati pejuang pendidikan adalah bagian dari membangun peradaban. Sebab sesungguhnya, mereka yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan anak bangsa tidak pernah benar-benar pergi. Nama dan pengabdiannya akan tetap hidup dalam doa, dalam ilmu yang diwariskan, dan dalam hati orang-orang yang pernah merasakan manfaat perjuangannya.

Di tengah hening malam yang dipenuhi lantunan ayat suci, seolah tersampaikan satu pesan abadi: jasad boleh beristirahat di bumi, tetapi cahaya pengabdian akan terus menyala menerangi generasi demi generasi. 

Oleh: Ali Aminulloh