الجمعة، 06 شباط/فبراير 2026

Petani Jakut Gagal Panen, Drainase Jadi Biang Banjir Sawah

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Jakarta – Petani di Kelurahan Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, meminta pemerintah segera memperbaiki sistem drainase. Saluran air yang tidak memadai membuat sawah terendam banjir berbulan-bulan hingga menyebabkan gagal panen. (29/1/26)

Salah satu petani, Sahali, mengatakan saluran air yang sempit dan tersumbat membuat genangan sulit surut, terutama saat hujan deras. Akibatnya, sekitar dua hektare lahan sawah yang dikelolanya tidak menghasilkan panen pada tahun ini.

“Airnya tidak cepat buang. Kalau hujan gede, salurannya kecil, jadi tersumbat,” ujar Sahali, Rabu (28/1/26)

Ia menjelaskan tanaman padi rusak karena terendam air dalam waktu lama. Selain membusuk, tanaman juga diserang hama keong sehingga tidak bisa dijual ke pasaran.

Secara umum, hasil panen padi di wilayah tersebut turun hingga 50 persen. Dari biasanya sekitar 12 ton, kini hanya mencapai 6 ton akibat banjir yang menggenangi sawah selama dua minggu setelah hujan lebat dan aliran irigasi yang tidak lancar.

“Padinya lodoh, hancur. Jadi, ya, gagal panen, rugi,” katanya.

Dampak banjir tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga menekan pendapatan petani. Harga gabah yang biasanya berkisar Rp670 ribu hingga Rp680 ribu per kuintal kini anjlok menjadi sekitar Rp400 ribu per kuintal.

“Biasanya segitu, sekarang turun jauh,” ungkap Sahali.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan banjir permukiman, tetapi juga memperhatikan lahan pertanian yang masih bertahan di Jakarta Utara. Menurutnya, pelebaran saluran air atau pembangunan jembatan di sekitar sawah dapat menjadi solusi agar aliran air lebih lancar.

“Yang penting airnya bisa jalan. Kalau dibikin jembatan atau saluran dibesarin, mungkin banjirnya tidak lama,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau warga di kawasan pesisir Pantai Utara Jakarta untuk waspada terhadap potensi banjir rob hingga 3 Februari 2026.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menjelaskan potensi banjir rob dipicu oleh pasang maksimum air laut akibat fase bulan purnama yang bertepatan dengan kondisi perigee, yakni posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut di wilayah pesisir Jakarta Utara, terutama pada pukul 05.00 hingga 11.00 WIB. (Amri-untuk Indonesia)